Nasional

Rupiah Tembus Rp18.000 Per Dollar AS, Ini Penyebab Utamanya

Published

on

Rupiah Tembus Rp18.000 Per Dollar AS, Ini Penyebab Utamanya

Rupiah tembus Rp18.000 per dollar AS dan kembali membuat pasar keuangan Indonesia berada dalam tekanan. Pelemahan ini terjadi di tengah kombinasi sentimen global dan domestik yang tidak ramah bagi mata uang negara berkembang. Pada Selasa, 29 September 2026, rupiah melemah melewati level Rp18.000 per dollar AS untuk pertama kalinya sejak awal Agustus, menurut laporan Reuters. Tekanan utama datang dari kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat, penguatan minat terhadap dollar AS, dan kenaikan harga minyak dunia.

Kondisi ini membuat pelaku pasar semakin berhati-hati. Rupiah sebenarnya sudah berada dalam tren lemah dalam beberapa waktu terakhir. Reuters mencatat pada 25 September 2026 rupiah sempat melemah ke sekitar Rp17.935 per dollar AS dan menjadi mata uang emerging Asia dengan kinerja terburuk sepanjang tahun, turun sekitar 7 persen. Kekhawatiran investor juga dipicu oleh arah kebijakan fiskal Indonesia, termasuk belanja pemerintah yang besar dan subsidi energi.

Yield Obligasi AS Jadi Biang Kerok Utama

Salah satu penyebab terbesar rupiah tembus Rp18.000 adalah lonjakan yield obligasi Amerika Serikat. Ketika imbal hasil US Treasury naik, investor global cenderung memindahkan dana ke aset dollar yang dianggap lebih aman dan memberi imbal hasil menarik. Akibatnya, mata uang negara berkembang seperti rupiah mendapat tekanan.

Reuters melaporkan yield obligasi AS naik hingga level tertinggi dalam 19 tahun, mencapai 5,27 persen. Kondisi ini membuat dollar AS semakin menarik dibanding aset berisiko di pasar berkembang. Saat investor memilih dollar, permintaan terhadap rupiah menurun dan nilai tukarnya ikut melemah.

Harga Minyak Naik Menambah Tekanan

Kenaikan harga minyak juga menjadi faktor penting. Indonesia masih membutuhkan impor energi, sehingga harga minyak yang naik dapat menambah tekanan terhadap neraca perdagangan dan kebutuhan dollar AS. Saat kebutuhan dollar meningkat untuk impor, rupiah bisa semakin tertekan.

Kondisi serupa juga dirasakan mata uang Asia lain. Reuters sebelumnya mencatat kenaikan harga minyak ikut menekan mata uang negara berkembang karena memunculkan kekhawatiran inflasi global dan arah suku bunga yang lebih tinggi. Rupiah termasuk mata uang yang rentan dalam situasi ini karena pasar melihat tekanan eksternal semakin berat.

Kebijakan Bank Indonesia Ikut Jadi Sorotan

Bank Indonesia juga menjadi perhatian pasar. Pada September 2026, BI meningkatkan pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder untuk menjaga likuiditas pasar. Namun, sebagian analis menilai kebijakan pembelian obligasi yang agresif dapat membuat rupiah menyerap tekanan penyesuaian pasar.

BI sebelumnya mempertahankan suku bunga acuan di 5,75 persen sambil tetap memantau risiko nilai tukar. Laporan Wall Street Journal menyebut BI mengambil sikap hati-hati karena harus menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, dan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, jika pelemahan rupiah semakin tajam, ruang intervensi atau kebijakan lanjutan bisa kembali menjadi perhatian pasar.

Investor Masih Khawatir terhadap Fiskal Indonesia

Selain faktor global, tekanan domestik juga tidak bisa diabaikan. Investor menyoroti kebijakan fiskal Indonesia, terutama belanja pemerintah yang besar dan subsidi energi. Reuters mencatat kekhawatiran tentang kebijakan fiskal menjadi salah satu alasan rupiah menjadi mata uang emerging Asia dengan kinerja terlemah tahun ini.

Sentimen terhadap Indonesia juga sempat terguncang sejak beberapa bulan sebelumnya. Pada Juni 2026, Reuters melaporkan rupiah sempat mencapai rekor lemah Rp18.190 per dollar AS di tengah kekhawatiran investor terhadap kebijakan ekonomi, belanja besar, subsidi bahan bakar, dan arus keluar asing dari saham serta obligasi.

Pasar Saham Ikut Tertekan

Pelemahan rupiah tidak berdiri sendiri. Pasar saham Indonesia juga ikut merasakan tekanan. Saat rupiah melewati Rp18.000 per dollar AS, indeks saham Jakarta sempat turun hingga 2,2 persen sebelum memangkas pelemahan menjadi sekitar 0,6 persen. Tekanan juga muncul karena aturan baru terkait batas harga saham minimum yang membuat beberapa saham besar bergerak tajam.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar sedang sensitif terhadap berbagai kabar. Investor tidak hanya melihat nilai tukar, tetapi juga kebijakan pasar modal, likuiditas, arus modal asing, dan risiko global. Jika tekanan eksternal berlanjut, aset berisiko di Indonesia bisa tetap bergerak fluktuatif.

Apa Dampaknya untuk Masyarakat?

Pelemahan rupiah bisa berdampak pada harga barang impor, biaya produksi, dan harga energi. Barang elektronik, bahan baku industri, obat-obatan, hingga produk dengan komponen impor dapat menjadi lebih mahal jika rupiah terus melemah. Dampaknya tidak selalu langsung terasa, tetapi bisa muncul bertahap melalui kenaikan biaya distribusi dan produksi.

Selain itu, perusahaan yang memiliki utang dollar AS juga bisa menghadapi beban lebih besar. Ketika rupiah melemah, jumlah rupiah yang dibutuhkan untuk membayar kewajiban dollar meningkat. Inilah sebabnya pelemahan nilai tukar sering menjadi perhatian besar, bukan hanya bagi investor, tetapi juga dunia usaha dan konsumen.

Kesimpulan

Rupiah tembus Rp18.000 per dollar AS karena kombinasi faktor global dan domestik. Dari luar negeri, lonjakan yield obligasi AS dan kenaikan harga minyak membuat dollar semakin kuat. Dari dalam negeri, investor masih mencermati arah kebijakan fiskal, pembelian obligasi oleh BI, dan stabilitas pasar keuangan.

Tekanan ini membuat rupiah rentan bergerak fluktuatif dalam waktu dekat. Pemulihan rupiah membutuhkan sinyal kebijakan yang kredibel, arus modal masuk yang lebih kuat, dan meredanya tekanan global. Jika faktor-faktor itu belum membaik, rupiah masih berpotensi menghadapi tekanan lanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Exit mobile version