Nusakambangan Disulap dari Pulau Penjara Jadi Sentra Pangan, Titiek Soeharto: Ternyata “Friendly”
Nusakambangan jadi Sentra Pangan Jadi Sorotan Baru. Pulau Nusakambangan, yang dikenal sebagai pusat pangan, mulai menarik perhatian setelah Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto alias Titiek Soeharto, melakukan kunjungan untuk melihat perubahan di Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Pulau yang biasanya identik dengan penjara berkeamanan tinggi kini juga dikembangkan sebagai area produktif untuk membantu ketahanan pangan. Dalam kunjungannya, Titiek didampingi oleh Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Agus Andrianto. Mereka melintas dari Dermaga Wijayapura ke Nusakambangan untuk melihat berbagai program yang mendukung kemandirian para tahanan. Berdasarkan laporan Harian Basis yang mengutip dari detikcom, kunjungan ini dilakukan pada Sabtu, 20 Juni 2026.
Titiek Soeharto Sebut Nusakambangan Ternyata Friendly
Titiek Soeharto menyampaikan pandangan berbeda setelah melihat Nusakambangan secara langsung. Pulau yang biasanya dianggap keras karena adanya penjara, kini tampak lebih terbuka berkat program pembinaan yang produktif. Ia menyatakan bahwa Nusakambangan ternyata “ramah” setelah menyaksikan aktivitas seperti pertanian, peternakan, dan pelatihan kerja yang berlangsung di sana. Pernyataan ini menarik karena bisa mengubah cara pandang publik terhadap Nusakambangan. Selama bertahun-tahun, pulau ini sering dibicarakan sebagai tempat bagi tahanan kasus berat. Sekarang, pemerintah berusaha menunjukkan sisi lain dari Nusakambangan sebagai tempat pembinaan, produksi, dan kemandirian.
Dari Pulau Penjara ke Pulau Kemandirian
Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan telah meluncurkan Program Ketahanan Pangan Nusakambangan pada 9 September 2025. Menteri Agus Andrianto menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari dukungan terhadap cita-cita Presiden, khususnya untuk mendorong kemandirian bangsa dan meningkatkan produktivitas para tahanan. Program ini tidak hanya berfokus pada pemanfaatan lahan. Pemerintah menjadikan program ini sebagai bagian dari pembinaan bagi para tahanan. Dengan cara ini, para tahanan tidak hanya menjalani hukuman, tetapi juga mendapatkan keterampilan yang bisa berguna setelah mereka kembali ke masyarakat.
Lahan Pertanian dan Peternakan Dikembangkan
Nusakambangan mulai berkembang dengan berbagai kegiatan produktif. Dalam peninjauan sebelumnya, aktivitas para tahanan meliputi ladang jagung, padi, peternakan, kolam ikan, serta kegiatan pelatihan kerja seperti konveksi, pelintingan rokok, dan pembuatan paving serta batako dari limbah FABA. Kegiatan ini menunjukkan bahwa pembinaan tidak hanya dilakukan melalui pelatihan teoritis. Para tahanan terlibat langsung dalam proses produksi. Mereka belajar cara mengolah lahan, merawat tanaman, mengelola hewan, serta menjalankan pekerjaan yang bernilai ekonomi.
Ketahanan Pangan Jadi Fokus Utama
Pengembangan Nusakambangan sebagai pusat pangan sejalan dengan rencana ketahanan pangan negara. Pemerintah ingin memanfaatkan lahan yang ada untuk memberikan kontribusi nyata bagi produksi makanan. Nusakambangan dianggap memiliki potensi besar karena memiliki area yang bisa dikembangkan untuk pertanian dan peternakan. Program ini juga memenuhi kebutuhan pembinaan di dalam penjara. Para tahanan yang ikut dalam kegiatan produktif dapat memiliki rutinitas yang positif, keterampilan kerja, dan pengalaman langsung di sektor pangan. Hal ini sangat penting untuk mempersiapkan mereka saat kembali ke masyarakat.
Panen Perdana Jadi Bukti Awal
Program pangan di Nusakambangan bukan sekadar rencana. Pada April 2025, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan melaksanakan panen pertama padi varietas Inpari di Lapas Terbuka Nusakambangan. Padi tersebut ditanam di lahan seluas dua hektar dengan melibatkan 18 tahanan dan diperkirakan dapat menghasilkan hingga tujuh ton pada panen yang pertama. Panen ini menjadi tanda awal bahwa lahan di Nusakambangan dapat digunakan dengan cara yang efisien. Jika pengelolaan terus dilakukan dengan baik, area ini berpotensi menjadi contoh pelatihan berbasis pertanian yang memberikan efek positif.
Warga Binaan Didorong Lebih Mandiri
Program untuk kemandirian di Nusakambangan juga ditujukan untuk memberikan keterampilan bagi warga binaan. Mereka tidak hanya diajarkan untuk disiplin, tetapi juga dilatih untuk memiliki kemampuan yang dapat menghasilkan. Program-program seperti bertani, beternak, membuat pakaian, dan memproduksi bahan bangunan dapat menciptakan kesempatan kerja setelah mereka menyelesaikan masa hukuman. Pendekatan ini menjadikan pemasyarakatan tidak hanya fokus pada pengamanan. Ada elemen rehabilitasi dan pemberdayaan yang lebih jelas. Dengan keterampilan tersebut, warga binaan diharapkan dapat memiliki kesempatan hidup yang lebih baik setelah mereka bebas.
Pengolahan Pupuk Organik Ikut Dikembangkan
Selain bertani dan beternak, Kemenimipas juga mendorong pengembangan inovasi dalam pengolahan pupuk organik di Nusakambangan. Program ini berlangsung lewat kerjasama Ditjen Pemasyarakatan dan Universitas Jenderal Soedirman. Tujuannya adalah untuk meningkatkan pelatihan produktif sekaligus memastikan bahwa lahan produktif mendukung ketahanan pangan nasional. Pengembangan pupuk organik sangat penting karena pertanian memerlukan dukungan input yang berkelanjutan. Jika warga binaan dapat memproduksi pupuk mereka sendiri, aktivitas pertanian bisa menjadi lebih efisien dan mandiri.
Nusakambangan Jadi Sentra Pangan
Nusakambangan sebagai pusat pangan menawarkan pandangan baru bagi pulau yang dikenal sebagai pulau penjara. Kunjungan Titiek Soeharto bersama Menteri Agus Andrianto menunjukkan bahwa Nusakambangan tidak hanya memiliki fasilitas pemasyarakatan, tetapi juga program-program produktif yang berbasis pertanian, peternakan, dan pelatihan kerja. Pernyataan Titiek bahwa Nusakambangan ternyata “ramah” mencerminkan perubahan cara pandang terhadap pulau ini. Dari tempat yang identik dengan hukuman, sekarang Nusakambangan didorong untuk menjadi area pembinaan, kemandirian, dan kontribusi bagi ketahanan pangan nasional.