Fashion

Margaret Qualley Pakai Sandal ‘Barefoot’ Chanel ke Karpet Merah

Published

on

Margaret Qualley Pakai Sandal ‘Barefoot’ Chanel ke Karpet Merah

Margaret Qualley kembali membuat momen fashion yang sulit dilewatkan lewat pilihan sandal barefoot Chanel saat menghadiri premiere The Dog Stars di London pada 20 Agustus 2026. Alih-alih memilih high heels, pumps, atau sandal bertali tipis yang biasanya mendominasi karpet merah, aktris berusia 31 tahun tersebut menggunakan salah satu rancangan paling eksperimental dari koleksi Cruise 2027 Chanel. Dari kejauhan, Margaret bahkan terlihat seperti benar-benar berjalan tanpa alas kaki. Sandalnya hanya terdiri dari bagian kecil yang menopang tumit serta tali hitam tipis yang membungkus kaki dan pergelangan. Sedangkan telapak hingga jari kaki tetap menyentuh permukaan secara langsung.

Pilihan tersebut langsung menjadi pusat perhatian meskipun busana Margaret sendiri juga merupakan rancangan Chanel yang cukup mencolok. Ia mengenakan little black dress dengan V-neck, cap sleeve, pinggang yang membentuk tubuh, serta detail fringe yang bergerak ketika dirinya berjalan. Margaret melengkapinya dengan perhiasan minimal dan beauty look yang relatif sederhana. Hasilnya menghasilkan kontras menarik: gaun hitam klasik khas Chanel bertemu alas kaki yang justru mempertanyakan apakah sebuah sandal masih membutuhkan sol untuk dapat disebut sebagai sepatu. Penampilan tersebut segera menyebar di media fashion dan media sosial setelah foto-fotonya muncul.

Sandal Ini Benar-Benar Tidak Memiliki Sol di Bagian Depan

Desain yang paling unik dan menarik dari sandal ini adalah cara pembuatannya. Chanel, yang dikenakan oleh Margaret, bukanlah sepatu transparan atau illusion shoes yang memberikan kesan kaki telanjang. Pada bagian solnya hampir sepenuhnya tidak ada. British Vogue menjelaskan bahwa desain ini terdiri dari cap tumit kecil yang terbuat dari kulit, terpasang pada bagian belakang dan terikat dengan tali. Bagian telapak, depan kaki, serta jari-jari terbuka, sehingga pemakai benar-benar menyentuh langsung permukaan yang dilalui. Chanel memperkenalkan rancangan ini dalam kategori yang sering disebut sebagai sandal tanpa sol, barefoot heel cap, atau naked sandals. Penampilannya cenderung menyerupai aksesori kaki ketimbang sepatu pada umumnya.

Unsur khas dari Chanel tetap terlihat melalui logo yang ada di tumit serta gaya tali yang menambah kesan desain yang terencana, dan bukan sepasang sepatu yang secara kebetulan kehilangan sol. Keputusan ini menarik karena dunia fashion dalam beberapa musim terakhir semakin berupaya untuk memadukan elemen sandal, perhiasan, dan gaya berpakaian telanjang. Sandal dengan tali tipis telah lama ada, tetapi Chanel mengembangkan konsep ini ke tingkat yang lebih berani dengan benar-benar menghilangkan bagian yang biasanya melindungi telapak kaki. Margaret kemudian menunjukkan bahwa objek yang tampak seperti eksperimen catwalk tersebut mampu dipakai dalam acara publik besar—walau masih ada pertanyaan mengenai kenyamanan dan kesesuaian penggunaan.

Matthieu Blazy Pertama Kali Memperkenalkannya di Cruise 2027

Desain sandal tanpa bagian sol ini tidak dikhususkan untuk Margaret Qualley. Sandal tersebut mula-mula menarik perhatian saat Matthieu Blazy meluncurkan koleksi Chanel Resort/Cruise 2027 di Biarritz, Prancis, pada bulan April 2026. Pertunjukan tersebut menjadi salah satu momen penting dalam era Blazy di Chanel, namun justru alas kaki tanpa sol menjadi salah satu hal yang paling banyak diperbincangkan setelah acara itu berakhir. Para model muncul berjalan dengan kaki nyaris telanjang, hanya mengenakan struktur kecil di bagian tumit. Perdebatan segera muncul di internet mengenai apakah desain ini pantas disebut sandal, aksesori, atau sekadar pernyataan konseptual dari catwalk. E!. Serta berbagai publikasi lainnya menobatkannya sebagai salah satu desain Chanel paling kontroversial di musim itu.

Empat bulan kemudian, Margaret menjadi salah satu selebritas awal yang mengenakan sandal ini di karpet merah. Momen ini signifikan karena pertunjukan mode sering kali menghadirkan busana dan aksesori yang sengaja dibuat sangat ekstrem untuk mengekspresikan ide koleksi, tetapi tidak selalu praktis untuk dikenakan di luar catwalk. Margaret berani mengambil langkah itu dan memberikan desain eksperimental Blazy panggung baru. Penampilan ini juga menunjukkan bagaimana peran brand ambassador dapat dioptimalkan untuk membawa konsep runway ke dalam diskusi yang lebih luas.

Little Black Dress Membuat Sandal Unik Ini Tetap Terlihat Elegan

Meskipun sepatu yang dipakai Margaret bersifat eksperimental, ia memilih untuk tidak memadukannya dengan busana yang sama dramatisnya. Sebaliknya, ia mengenakan little black dress dari Chanel yang klasik, yang membuat perhatian langsung tertuju pada kakinya. Gaun tersebut memiliki neckline berbentuk V, lengan pendek, siluet yang menempel pada tubuh, dan detail fringe hitam yang menambah dimensi serta gerakan. Menurut Harper’s Bazaar, gaya penampilannya adalah kombinasi yang harmonis antara nuansa romantis khas Chanel dan sandal telanjang yang sangat avant-garde. Pendekatan ini menjadikan tampilan itu terasa lebih seperti fashion ala red carpet ketimbang kostum yang terlalu berani.

Seandainya Margaret memilih gaun yang kompleks, berwarna neon, serta perhiasan besar bersamaan dengan sandal tanpa alas, penampilannya bisa jadi terlihat berlebihan. Little black dress tersebut memberikan titik fokus visual yang dikenal. Warna hitam dress juga selaras dengan tali sandal, membuat keseluruhan tampilan tetap seperti satu kesatuan meskipun kakinya sebagian besar telanjang. Rambut Margaret dibiarkan bergelombang lembut dan riasannya dibuat cukup alami, memelihara nuansa romantis yang kerap menjadi ciri khas gayanya. Bahkan, warna cat kuku kakinya yang gelap menjadi lebih mencolok karena jari-jari kakinya sepenuhnya terlihat—detail yang jarang dianggap penting dalam sebuah penampilan red carpet.

Margaret Juga Mengakui Panggilan Dirinya ‘Chanel Barefoot’

Tidak ada keraguan mengenai penggunaan sandal tersebut. Margaret saja menanggapi penampilannya dengan santai ketika ditanyai tentang alas kaki yang menarik perhatian publik. Dalam percakapan di red carpet, ia menegaskan bahwa ia memang merasa seperti berjalan tanpa alas kaki sambil mengenakan Chanel. Pernyataan ini semakin menegaskan bahwa momen fashion ini dilakukan dengan penuh kesadaran dan bukan karena kesalahan berpakaian atau sandal yang rusak. Margaret tampaknya menjadi sosok yang tepat untuk memperkenalkan desain seperti ini, mengingat gaya pribadinya seringkali unik, romantis, dan tak terikat oleh norma.

British Vogue menyatakan bahwa elemen santai dan bebas dari sandal itu sangat sesuai dengan karakter mode yang diusung Margaret. Ia tampak tidak berusaha membuat alas kaki tersebut terlihat biasa saja. Sebaliknya, keanehannya justru menjadi daya tarik tersendiri. Di jagat red carpet, di mana para selebritas sering menggunakan gaun couture yang tidak praktis, struktur berat, atau sepatu yang sangat tinggi, ketidakpraktisan menjadi hal yang lazim. Sandal tanpa alas ini hanya mengarahkan konsep itu ke jalan yang berbeda: alih-alih menambah struktur pada kaki, Chanel malah nyaris menghilangkan sepatu sepenuhnya.

Desainnya Memicu Perdebatan di Kalangan Penggemar Mode.

Tidak mengherankan jika kemunculan sandal ini kembali memicu berbagai diskusi. Beberapa penggemar mode menganggapnya sebagai simbol keberanian haute couture dalam menantang fungsi barang-barang sehari-hari. Sementara itu, yang lainnya mempertanyakan mengapa seseorang ingin membayar untuk sandal yang bahkan tidak memberikan perlindungan pada telapak kaki. Setelah gambar Margaret mulai beredar, berbagai komentar menghiasi media sosial mengenai aspek kebersihan, kenyamanan, dan pengalaman berjalan dengan model tersebut. Banyak orang mencatat bahwa desain ini bahkan menjadi bahan parodi. Kreator mode Angelica Hicks menciptakan versi DIY dengan menggunakan masker medis untuk meniru kreasi dari Chanel. Sedangkan komentator mode Mandy Lee justru mempertahankan model ini sebagai pilihan menarik bagi mereka yang menyukai sepatu unik.

Reaksi serupa sudah muncul sejak sandal ini pertama kali ditampilkan di runway pada bulan April. Ini menunjukkan bahwa nilai dari sandal barefoot mungkin tidak terletak pada fungsionalitasnya sebagai sepatu tradisional. Sebaliknya, produk ini berfungsi lebih sebagai perbincangan dalam dunia mode—suatu objek yang dirancang untuk menarik perhatian orang agar berhenti, melihat, dan mendiskusikannya. Dalam konteks ini, penampilan Margaret pada acara premiere dapat dianggap sangat sukses. Berbagai media mode internasional membahas tentang sandalnya meskipun saat itu ia sedang menghadiri sebuah acara promosi film besar bersama sejumlah selebritas lainnya.

Sandal Tanpa Alas Kaki Bukanlah Pilihan untuk Semua Orang

Walaupun sempat viral, model ini sepertinya tidak akan menjadi alternatif bagi sneakers atau ballet flats yang biasa digunakan sehari-hari. British Vogue menyebutkan bahwa sandal tanpa alas dari Chanel belum bisa diakses secara umum melalui platform online dan kemungkinan besar hanya tersedia untuk pelanggan VIP serta konsumen utama dari rumah mode tersebut. Hal ini semakin menguatkan anggapan bahwa desain tersebut lebih merupakan eksperimen dalam dunia fashion daripada sebuah produk yang ditujukan untuk pasar luas. Dari segi fungsionalitas, kekurangan sandal ini juga jelas terlihat. Tanpa sol, kaki tidak memiliki perlindungan dari permukaan yang panas, tajam, lembab, atau kotor.

Oleh karena itu, mengenakannya untuk berjalan jauh di jalanan perkotaan jelas menghadirkan tantangan yang berbeda jika dibandingkan dengan memakainya hanya untuk beberapa menit dalam sesi pemotretan. Momen yang dialami Margaret pun semakin dramatis karena lokasi acara di London menggunakan permukaan keras, alih-alih karpet merah yang lembut yang memberikan sedikit perlindungan. Mode seperti ini lebih menyerupai konsep yang bisa dikenakan. Ia mengungkapkan gagasan tertentu tentang kebebasan, tubuh, dan bagaimana desain alas kaki dapat disederhanakan hingga mencapai elemen paling dasar. Apakah ini praktis? Tentu tidak untuk sebagian besar aktivitas. Namun, high fashion memang tak selalu dikembangkan dengan mempertimbangkan apakah seseorang bisa mengenakannya untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari sepanjang hari.

Munculnya Sesuai dengan Tren Sepatu yang Semakin Sederhana

Sandal yang dikenakan oleh Margaret muncul pada saat industri mode banyak bereksperimen dengan alas kaki yang semakin ramping dan terbuka. Harper’s Bazaar melaporkan bahwa musim panas 2026 kaya dengan flip-flop mewah, kitten heels thong, dan sandal sangat tipis dengan bentuk ujung persegi. Tren ini menunjukkan minat terhadap alas kaki yang tampak semakin ringan dan hanya sedikit menutupi kaki. Chanel hanya membawa kecenderungan tersebut ke tingkat yang ekstrem dengan mempertanyakan relevansi sol itu sendiri. Alas kaki tanpa sol juga berkaitan dengan tren “naked dressing” yang telah berkembang dalam dunia pakaian selama beberapa tahun terakhir. Jika naked dress bermain dengan transparansi dan memberikan ilusi tubuh tanpa busana, sandal tanpa alas kaki mengambil pendekatan yang jauh lebih harfiah: sebagian besar kaki memang benar-benar terbuka.

Namun, desain Chanel tetap menyuguhkan sedikit struktur di bagian tumit, sehingga masih ada jejak kemewahan. Detail ini menempatkannya di antara sandal tanpa alas kaki dan alas kaki. Dunia fashion seringkali bergerak melalui eksplorasi batasan seperti ini. Tidak semua eksperimen pada akhirnya menjadi tren yang diterima secara luas. Namun, desain yang cukup menarik untuk memicu perbincangan dapat mempengaruhi bentuk produk lain di musim-musim mendatang. Mungkin kita tidak akan melihat banyak orang berjalan tanpa sol, tetapi tren sandal yang semakin tipis, minimalis, atau hampir tak terlihat, berpotensi menarik lebih banyak perhatian setelah momen ini.

Margaret Qualley Menghadirkan Momen Fashion di Premiere The Dog Stars

Margaret sebenarnya hadir di London untuk menghadiri premiere film terbaru Ridley Scott, The Dog Stars, yang juga dibintangi oleh Jacob Elordi, Josh Brolin, Guy Pearce, Benedict Wong, dan Allison Janney. Film ini diadaptasi dari novel karya Peter Heller dan dijadwalkan tayang di bioskop pada 28 Agustus 2026. Namun, seperti yang sering terjadi pada acara karpet merah modern, fashion bisa memicu diskusi hampir sebesar film yang dipromosikan. People bahkan mencantumkan penampilan Margaret dalam daftar penampilan terbaik minggu ini. Meskipun sandal yang digunakannya tetap menjadi salah satu komponen paling kontroversial dari keseluruhan gaya tersebut.

Margaret Qualley Pakai Sandal ‘Barefoot’ Chanel ke Karpet Merah

Kejadian itu menunjukkan peran karpet merah sebagai ajang eksperimen fashion. Margaret sebetulnya bisa memilih sepatu klasik dari Chanel dan tetap tampil anggun dengan gaun hitamnya. Namun, ia justru memutuskan untuk mengenakan desain yang menuai banyak perdebatan sejak tampil di runway. Hal ini memungkinkan orang-orang untuk melihat dengan jelas bagaimana “non-shoe” itu saat dipakai. Tentu saja, hasilnya mungkin tidak akan disukai oleh semua orang—dan bisa jadi, itulah yang ingin ditekankan. Sandal barefoot dari Chanel tidak dirancang untuk menyatu dengan busana. Desain tersebut dengan sengaja menantang pandangan kita tentang apa itu sepatu dan memicu berbagai reaksi. Berkat keberanian Margaret Qualley yang mengenakannya di salah satu momen publik terpenting minggu tersebut. Aksesori eksperimental karya Matthieu Blazy akhirnya mendapatkan momen debut di karpet merah yang memukau, selaras dengan keunikan desainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Trending

Exit mobile version