Connect with us

Teknologi

7 Game Underrated PS1 yang Wajib Dicoba Setidaknya Sekali Seumur Hidup

Published

on

7 Game Underrated PS1, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup

7 Game Underrated PS1 yang Wajib Dicoba Setidaknya Sekali Seumur Hidup

Game yang kurang diminiati atau bisa di sebut game underrated di PS1 selalu menarik untuk dibicarakan karena masih banyak judul hebat yang tidak sepopuler game terkenal seperti Final Fantasy VII, Resident Evil 2, Tekken 3, atau Metal Gear Solid. PlayStation 1 sebenarnya memiliki banyak permainan tersembunyi yang memiliki gameplay unik, cerita menarik, dan eksperimen yang berani.

Beberapa permainan ini mungkin tidak mendapatkan perhatian sebanyak ikon-ikon besar PS1. Namun, kualitasnya tetap patut untuk dihargai. Beberapa daftar permainan tersembunyi juga masih sering menyebut judul seperti Heart of Darkness, Legend of Legaia, Hogs of War, hingga Galerians sebagai game yang layak dicoba lagi.

1. Omega Boost Menjadi Game Tersembunyi PS1 dengan Aksi Cepat

Omega Boost merupakan salah satu game yang kurang dihargai di PS1 yang patut dicoba oleh penggemar aksi cepat. Game ini dibuat oleh Polyphony Digital, studio yang lebih dikenal berkat seri Gran Turismo. Namun, daripada balapan, Omega Boost menyajikan pertempuran robot mecha dalam ruang 3D. Daya tarik utama game ini terletak pada gameplay yang cepat, efek visual yang menarik, dan suasana futuristik. Pemain mengendalikan mecha yang dapat terbang bebas sambil mengunci target dan menembaki musuh dari berbagai sudut. Bagi yang suka permainan arcade shooter, Omega Boost sangat mengasyikkan meski tidak banyak diperbincangkan.

2. Vagrant Story Menawarkan Cerita Gelap dan Sistem yang Berbeda

Vagrant Story sering dipandang sebagai salah satu karya terbaik dari Square di PS1, tetapi tidak selalu sepopuler Final Fantasy. Game ini menyajikan cerita gelap, suasana gothic, dan sistem pertarungan yang tidak biasa untuk RPG. GamesRadar juga mencantumkan Vagrant Story dalam daftar game PS1 terbaik berkat desainnya yang berkualitas dan warisannya. Keunikan dari Vagrant Story terletak pada sistem penargetan tubuh musuh, pembuatan senjata, dan manajemen risiko saat menyerang. Ceritanya pun lebih matang, penuh dengan intrik politik, kutukan, dan misteri. Game ini cocok untuk pemain yang ingin merasakan pengalaman RPG di PS1 yang lebih serius dan menantang.

3. Legend of Legaia Ideal untuk Penggemar JRPG Klasik

Legend of Legaia adalah JRPG yang sering terlupakan, padahal konsepnya sangat menarik. Game ini menggabungkan petualangan fantastis dengan sistem pertarungan yang berbasis kombinasi arah. Pemain bisa menciptakan jurus dengan memasukkan urutan serangan seperti atas, bawah, kiri, dan kanan. Sistem ini membuat pertarungan terasa lebih menarik dibandingkan JRPG biasa. Selain itu, dunia Legend of Legaia memiliki suasana gelap karena diselimuti kabut misterius. Judul ini juga sering masuk dalam daftar game tersembunyi PS1 berkat kekuatan konsep dan daya tarik nostalgianyanya.

4. Heart of Darkness Menampilkan Visual Sinematik yang Menakjubkan

Heart of Darkness adalah permainan platformer sinematik yang sangat unik di era PS1. Visualnya menggunakan gaya pre-rendered dan animasi yang tampak seperti film animasi. Infinity Retro menyebut game ini sebagai salah satu game terindah di platform PS1, dengan visual yang sangat berbeda untuk zaman itu. Gameplay-nya menantang, karena pemain perlu memahami pola bahaya, melompat dengan tepat, dan menyelesaikan masalah seperti teka-teki. Game ini tidak selalu mudah, tetapi atmosfernya sangat kuat. Bagi mereka yang menyukai Oddworld atau Another World, Heart of Darkness sangat pantas untuk dicoba.

5. Hogs of War Menawarkan Strategi yang Lucu namun Serius

Hogs of War terdengar tidak biasa karena mengangkat tema perang di antara babi. Namun, itulah yang membuatnya menarik. Permainan ini menawarkan strategi berbasis giliran dalam 3D yang mirip dengan Worms, tetapi dengan karakter dan medan yang lebih fleksibel. Para pemain mengatur tim babi yang dilengkapi senjata untuk mengalahkan pihak lawan. Ada banyak senjata yang lucu, taktik penempatan, dan humor yang membuat permainan ini terasa santai. Den of Geek serta Infinity Retro keduanya menyebut Hogs of War dalam daftar permainan PS1 yang kurang dihargai atau sebagai permata tersembunyi.

6. Galerians Ideal untuk Penggemar Horror Psikologis

Galerians adalah permainan horor sci-fi yang memiliki suasana sangat berbeda dibandingkan Resident Evil. Pemain mengendalikan Rion, seorang pemuda yang memiliki kekuatan psikis yang terbangun di tempat yang misterius. Ceritanya kelam, penuh dengan eksperimen, dan menyerupai perpaduan antara anime cyberpunk dan survival horror. Permainan ini tidak mengandalkan zombie untuk menciptakan ketegangan. Rasa takut datang dari suasana yang dingin, kekuatan mental, dan identitas karakter utama. Galerians juga disebut dalam daftar permata tersembunyi PS1 karena idenya yang unik dan belum banyak ditiru.

7. Einhander Menjadi Shooter PS1 yang Keren dan Sulit

Einhander merupakan permainan tembak-menembak scrolling samping dari Square yang sangat menarik. Permainan ini mengajak pemain mengendalikan pesawat tempur dalam sebuah konflik di masa depan. Visualnya mengesankan, musiknya kuat, dan tingkat kesulitannya cukup menantang. Keistimewaan Einhander terletak pada sistem senjata yang bisa diambil dari musuh yang dikalahkan. Pemain perlu cerdas dalam memilih senjata sesuai dengan kondisi yang dihadapi. Meskipun tidak sepopuler RPG dari Square, Einhander sering dianggap sebagai salah satu permainan PS1 terbaik bagi penggemar genre shooter. GamesRadar juga telah memasukkan Einhander dalam daftar game PS1 terbaik sepanjang masa.

Mengapa Game Underrated PS1 Masih Patut Dicoba?

Banyak permainan PS1 yang kurang dihargai tetap menarik karena keberanian mereka untuk bereksperimen. Era PS1 adalah waktu ketika para pengembang mencoba banyak ide baru. Tidak semua permainan memiliki grafis yang sempurna, tetapi banyak yang memiliki konsep yang kuat dan identitas yang jelas. Permainan seperti Omega Boost, Galerians, dan Hogs of War mungkin tidak menjadi ikon terkenal. Namun, mereka memberikan pengalaman yang tidak mudah ditemukan di permainan modern. Inilah sebabnya permata tersembunyi PS1 masih dicari oleh kolektor dan penggemar retro.

Inilah Game Underrated PS1 yang Harus Kamu Coba

Daftar permainan PS1 yang kurang dihargai ini menunjukkan bahwa PlayStation 1 tidak hanya tentang judul besar. Ada banyak permainan kecil, unik, dan berani yang layak dicoba setidaknya sekali dalam hidup. Jika Anda menyukai aksi cepat, cobalah Omega Boost atau Einhander. Jika Anda menikmati RPG yang serius, pilihlah Vagrant Story dan Legend of Legaia. Untuk pengalaman horor dan platformer yang unik, Galerians serta Heart of Darkness bisa menjadi pilihan. Sementara itu, Hogs of War cocok bagi pemain yang ingin menikmati strategi yang lucu namun tetap menantang

Daftar 7 Game Underrated PS1

  1. Omega Boost
  2. Vagrant Story
  3. Legend of Legaia
  4. Heart of Darkness
  5. Hogs of War
  6. Galerians
  7. Einhander

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Teknologi

Cara Pakai Fitur Try On Google, Coba Outfit Saat Belanja Online Makin Praktis

Published

on

Cara Pakai Fitur Try On Google, Belanja Online Makin Praktis

Cara Pakai Fitur Try On Google, Coba Outfit Saat Belanja Online Makin Praktis

Cara pakai fitur Try On di Google semakin banyak dicari setelah fitur belanja virtual ini diluncurkan untuk membantu orang mencoba pakaian secara daring. Dengan fitur ini, pengguna dapat melihat bagaimana pakaian terlihat pada tubuh mereka sebelum melakukan pembelian. Teknologi ini menjadi pilihan cerdas bagi mereka yang sering ragu saat membeli baju secara online. Google menghadirkan fitur Try On untuk barang-barang pakaian seperti atasan, bawahan, dan gaun. Menurut halaman bantuan Google Shopping, pengguna dapat memanfaatkan fitur ini dengan mencari produk fashion di Google, membuka item yang mendukung fitur ini, dan menekan tombol “Try it on”. Namun, tidak semua barang bisa menggunakan fitur ini, dan kategori seperti lingerie, pakaian renang, serta aksesori tidak termasuk.

Cara Menggunakan Fitur Try On Google Saat Belanja Daring

Untuk mulai menggunakan fitur Try On Google, langkah pertama adalah membuka Google Search atau Google Images. Kemudian, carilah produk pakaian yang ingin dicoba, seperti blouse putih, dress hitam, celana jeans, atau outfit lainnya yang terdaftar dalam hasil pencarian Google. Setelah menemukan item yang menarik hati, buka halaman detail produk tersebut. Jika barang itu mendukung fitur virtual try-on, pengguna akan melihat tombol atau ikon “Try it on”. Ketuk tombol tersebut untuk mulai mencoba pakaian secara virtual. IDN Times juga menginformasikan bahwa pengguna dapat menggunakan fitur ini melalui hasil pencarian Google atau tab Google Images, lalu memilih produk yang memiliki tombol Try it On.

Unggah Foto Pribadi untuk Melihat Hasil Virtual

Setelah tombol Try On dipilih, pengguna bisa mengunggah foto pribadi. Google menyarankan agar pengguna memakai foto yang merupakan milik mereka sendiri atau foto yang telah mendapatkan izin untuk digunakan. Foto harus jelas menunjukkan tubuh agar hasil virtual try-on terlihat lebih baik. Google juga telah membuat pengalaman try-on yang lebih mudah melalui halaman khusus. Dalam pembaruan Shopping, pengguna dapat mengunggah selfie, memilih ukuran pakaian yang biasa dipakai, lalu Google akan menghasilkan beberapa gambar dalam gaya studio. Setelah memilih salah satu foto default, pengguna bisa mulai mencoba pakaian dari berbagai listing Google Shopping.

Barang yang Dapat Dicoba Melalui Try On Google

Fitur ini tidak berlaku untuk semua jenis fashion. Google menyatakan bahwa Try On mendukung kategori seperti atasan, bawahan, dan gaun. Artinya, pengguna bisa mencoba atasan, celana, rok, atau gaun tertentu jika produk tersebut memenuhi syarat. Namun, ada beberapa kategori yang belum didukung. Pakaian renang, lingerie, dan aksesori tidak termasuk dalam fitur ini. Jika tombol Try it on tidak muncul di sebuah produk, berarti barang tersebut belum memenuhi kriteria untuk dicoba secara virtual.

Fitur Try On Google Sudah Hadir di Indonesia

Berita baiknya, fitur ini juga sudah dapat digunakan oleh pengguna di Indonesia. CNBC Indonesia melaporkan bahwa Google meluncurkan fitur Try On di Indonesia agar pengguna bisa mencoba pakaian secara virtual saat berbelanja online. Kehadiran fitur ini membuat pengalaman memilih outfit menjadi lebih interaktif. Dengan fitur ini, pengguna di Indonesia dapat lebih mudah membayangkan bagaimana pakaian terlihat sebelum membeli. Namun, penting untuk diingat bahwa hasil visual tetap harus dianggap sebagai simulasi. Ukuran asli, bahan, draping kain, dan kenyamanan harus tetap dicek melalui deskripsi produk serta ulasan dari pembeli.

Teknologi AI Membantu Menampilkan Pakaian

Google Try On menggunakan AI generatif untuk kinerjanya. Teknologi ini berusaha untuk mencocokkan pakaian dengan bentuk tubuh serta pose dan foto dari pengguna. Tujuannya adalah untuk memberikan tampilan visual yang lebih pribadi dibanding hanya melihat gambar model produk. Google menyatakan bahwa pembaruan virtual try-on mereka memungkinkan pengguna untuk mencoba shirts, pants, skirts, dan dresses dari daftar produk dengan mengklik ikon try-on. Setelah itu, pengguna dapat meng-upload foto untuk melihat bagaimana penampilan item tersebut saat dikenakan.

Tips Agar Hasil Try On Lebih Bagus

Untuk hasil yang lebih baik, gunakan foto dengan pencahayaan yang baik. Pilih pose berdiri tegak, menghadap ke arah kamera, dan hindari menggunakan terlalu banyak aksesoris. Jangan gunakan foto yang terlalu gelap, blur, atau dengan pose yang berlebihan. Pilih pakaian yang sederhana saat memotret. Latar belakang yang tidak rumit juga membantu AI mengenali bentuk tubuh dengan lebih akurat. Dengan foto yang terang dan jelas, hasil Try On umumnya akan lebih terlihat alami dan mudah dipahami.

Jangan Lupa Cek Ukuran dan Detail Produk

Walaupun penggunaan fitur Try On Google cukup mudah, pengguna tetap perlu memeriksa ukuran produk. Fitur ini menyediakan gambaran visual, tetapi belum tentu sepenuhnya mencerminkan kenyamanan saat digunakan. Sebelum melakukan pembelian, periksa size chart, jenis bahan, panjang pakaian, serta ukuran lingkar dada, pinggang, dan pinggul. Bacalah juga ulasan dari pembeli untuk mendapatkan informasi apakah ukuran produk cenderung kecil, besar, atau sesuai dengan ukuran standar. Ini langkah penting untuk mengurangi kemungkinan salah beli.

Cara Pakai Fitur Try On Google, Bikin Belanja Online Makin Praktis

Menggunakan fitur Try On Google itu mudah. Pengguna hanya perlu mencari produk pakaian di Google atau Google Images, membuka produk yang mendukung fitur tersebut, mengklik tombol Try it on, lalu mengunggah foto diri. Setelahnya, Google akan menunjukkan simulasi baju secara virtual. Fitur ini sangat membantu saat berbelanja online karena pengguna dapat melihat bagaimana pakaian tersebut sebelum membeli. Namun, hasil Try On tetap perlu dilengkapi dengan pengecekan ukuran, bahan, dan ulasan produk untuk memastikan keputusan belanja lebih aman.

Continue Reading

Teknologi

Google Rilis Gemma 4 12B, AI Multimodal yang Bisa Jalan di Laptop RAM 16 GB

Published

on

Google Rilis Gemma 4 12B, AI Multimodal yang Ramah Laptop

Google Rilis Gemma 4 12B, AI Multimodal yang Bisa Jalan di Laptop RAM 16 GB

Google rilis Gemma 4 12B sebagai model AI multimodal baru yang dirancang untuk digunakan secara lokal di perangkat konsumen. Model ini menarik perhatian karena dikatakan cukup ringan untuk dioperasikan di laptop yang memiliki RAM 16 GB. Ini berarti para pengembang bisa menggunakan AI canggih tanpa harus terus-menerus bergantung pada server cloud. Gemma 4 12B merupakan bagian dari keluarga Gemma 4, model open-weight dari Google DeepMind. Google mengklaim bahwa model ini dapat memberikan pengalaman multimodal serta agentic langsung di perangkat pengguna. Model ini juga dibuat untuk mendekati kemampuan model 26B MoE, tetapi dengan kebutuhan memori yang lebih kecil.

Google Meluncurkan Gemma 4 12B untuk Penggunaan Lokal

Kehadiran Gemma 4 12B menunjukkan arah baru dalam pengembangan AI. Google tidak hanya fokus pada model besar yang beroperasi di cloud. Mereka juga berusaha mengembangkan model yang dapat berjalan di laptop, workstation kecil, atau perangkat dengan memori terbatas. Dalam penjelasan di blog pengembang, Google menyatakan bahwa Gemma 4 12B cukup kecil untuk dioperasikan di laptop dengan GPU khusus 16 GB VRAM atau memori bersatu. Dukungan ini menjadikan model lebih mudah diakses bagi pengembang yang ingin menciptakan aplikasi AI lokal.

AI Multimodal yang Bisa Memahami Teks, Gambar, dan Audio

Daya tarik utama Gemma 4 12B adalah kemampuan multimodalnya. Model ini tidak hanya memproses teks. Gemma 4 juga dibuat untuk memahami input visual dan audio, sehingga bermanfaat untuk aplikasi yang lebih kompleks. Situs Google DeepMind menyatakan bahwa Gemma 4 mendukung pemikiran multimodal, termasuk pemahaman terhadap audio dan visual. Model ini juga mendukung alur kerja agentic, membuatnya bisa digunakan untuk membangun agen AI yang merencanakan, menggunakan alat, dan menyelesaikan tugas tertentu.

Gemma 4 12B Dapat Berjalan di Laptop dengan RAM 16 GB

Salah satu klaim menarik dari Google mengenai Gemma 4 12B adalah kemampuannya untuk beroperasi di laptop dengan RAM 16 GB. Ini sangat penting karena banyak model AI modern memerlukan GPU mahal atau server khusus. Dengan kebutuhan yang lebih ringan, akses untuk pengembangan AI menjadi lebih luas. Ars Technica juga menekankan bahwa Gemma 4 12B dirancang untuk dapat berjalan di laptop yang memiliki RAM 16 GB. Model ini disebut menggunakan skema pengkodean baru dan teknik prediksi multi-token agar kinerjanya lebih efisien.

Apa Perbedaannya dengan Model AI Besar Lain?

Gemma 4 12B bukan model terbesar dalam keluarga Gemma 4. Namun, posisinya menarik karena berada di tengah antara ukuran dan kemampuan. Model ini cukup kuat untuk banyak tugas AI, tetapi tetap lebih ringan dibandingkan model besar yang memerlukan memori jauh lebih tinggi. Google AI for Developers mencantumkan keluarga Gemma 4 dalam beberapa ukuran, termasuk E2B, E4B, 12B, 31B, dan 26B A4B. Pilihan ukuran ini memberikan fleksibilitas bagi pengembang untuk memilih model sesuai dengan kebutuhan perangkat dan aplikasi yang mereka miliki.

Cocok untuk Developer dan Aplikasi Offline

Gemma 4 12B sangat cocok untuk pengembang yang ingin menciptakan aplikasi AI lokal. Misalnya, chatbot pribadi, asisten dokumen, analisis gambar, alat bantu pemrograman, atau agen produktivitas. Karena beroperasi secara lokal, data pengguna tidak harus selalu dikirim ke cloud. Hal ini juga sangat penting untuk sektor-sektor yang memerlukan privasi. Perusahaan kecil, peneliti, pelajar, dan kreator dapat menjelajahi penggunaan AI multimodal tanpa harus menghadapi biaya server yang besar. Model lokal juga sangat berguna ketika koneksi internet terbatas.

Open-Weight Menjadikannya Lebih Fleksibel

Gemma adalah bagian dari jenis model open-weight. Ini berarti ukuran model tersedia untuk digunakan dan dikembangkan sesuai dengan aturan lisensi. Cara ini memungkinkan komunitas untuk bereksperimen, melakukan optimasi, penyesuaian, dan mengintegrasikan ke berbagai aplikasi. Menurut Google, Gemma adalah kumpulan model yang ringan dan dibangun dengan teknologi yang sama dengan Gemini. Dengan metode ini, Gemma dibuat lebih mudah diakses oleh pengembang dan komunitas AI.

Tantangan Menjalankan Gemma 4 12B di Laptop

Meskipun dapat berjalan di laptop dengan RAM 16 GB, pengguna tetap harus memperhatikan spesifikasi. Kinerja terbaik biasanya memerlukan GPU yang cukup kuat atau memori terpadu yang cepat. Jika hanya mengandalkan CPU biasa, proses inferensi mungkin terasa lebih lambat. Selain itu, model AI yang berjalan secara lokal masih memerlukan ruang penyimpanan, pengaturan perangkat lunak, dan pengetahuan teknis. Pengguna yang tidak berpengalaman mungkin masih memerlukan aplikasi tambahan seperti LM Studio, Ollama, atau alat serupa agar lebih mudah menjalankan model tersebut.

Google Rilis Gemma 4, AI Multimodal yang Bisa Jalan di Laptop RAM 16 GB

Google meluncurkan Gemma 4 12B sebagai model AI multimodal yang menarik bagi pengembang dan pengguna perangkat lokal. Kemampuannya untuk dijalankan di laptop dengan RAM 16 GB memungkinkan AI canggih menjadi lebih mudah diakses tanpa memerlukan server cloud yang mahal.Dengan dukungan untuk teks, gambar, audio, alur kerja yang dapat diatur, dan ukuran yang lebih efisien, Gemma 4 12B bisa menjadi pilihan yang kuat untuk eksperimen AI lokal. Model ini juga menunjukkan bahwa masa depan AI tidak hanya terletak pada pusat data besar, tetapi juga di laptop pribadi pengguna.

Continue Reading

Teknologi

7 Seri Game yang Resmi Mati di Era PS1 dan Tak Pernah Dilanjutkan

Published

on

7 Seri Game PS1 yang Tak Dilanjutkan

7 Seri Game yang Resmi Mati di Era PS1 dan Tak Pernah Dilanjutkan

Inilah 7 seri game PS1 yang telah berakhir sering kali membuat para pemain merasa nostalgia dan penasaran. Banyak judul PlayStation 1 di zaman dahulu memiliki konsep yang kuat, permainan yang unik, dan banyak penggemar setia. Namun, sebagian besar dari seri tersebut tidak pernah benar-benar dilanjutkan setelah akhir era PS1. Di masa PlayStation pertama, banyak pengembang berani mencoba hal baru. Mereka menciptakan permainan ruang angkasa, pertarungan realistis, horor bertahan hidup yang aneh, dan platformer 3D yang tak biasa. Sayangnya, tidak semua seri berhasil bertahan hingga PS2, PS3, atau generasi yang lebih modern.

1. Colony Wars Menjadi Seri Game PS1 yang Hilang dan Sangat Disayangkan

Colony Wars adalah salah satu seri permainan PS1 yang paling disayangkan hilangnya. Permainan ini mengajak pemain beraksi dalam pertarungan luar angkasa dengan suasana sinematik. Pemain mengendalikan pesawat tempur dan melaksanakan misi besar dalam perang antar faksi. Seri ini memiliki tiga permainan di PS1, yaitu Colony Wars, Colony Wars: Vengeance, dan Colony Wars III: Red Sun. MobyGames mencatat Colony Wars sebagai seri yang terdiri dari tiga judul, sementara Red Sun adalah yang ketiga di PlayStation. Sayangnya, setelah era PS1, seri ini tidak mendapatkan kelanjutan yang berarti. Dengan teknologi saat ini, Colony Wars bisa saja menjadi permainan pertarungan luar angkasa yang sangat sinematik.

2. G-Police Berhenti Setelah Dua Judul

G-Police juga merupakan seri yang berakhir terlalu cepat. Permainan ini menawarkan aksi futuristik dengan kendaraan udara di koloni Callisto. Pemain berperan sebagai polisi masa depan yang mengungkap konspirasi besar di tengah kota dengan gaya cyberpunk. Seri ini hanya memiliki dua permainan utama. MobyGames mencatat G-Police sebagai seri yang terdiri dari dua game, dengan permainan pertamanya diluncurkan pada tahun 1997 untuk PlayStation dan PC. Dengan konsep kendaraan terbang, kota futuristik, dan konflik korporasi, G-Police sebenarnya memiliki potensi besar untuk dihidupkan kembali di zaman modern. Namun, franchise ini tetap sebagai bagian yang unik dari era PS1.

3. Bushido Blade Tidak Dilanjutkan Sebagai Seri Utama

Bushido Blade dikenal sebagai salah satu permainan pertarungan yang paling unik di PS1. Berbeda dari permainan pertarungan lainnya, game ini tidak menggunakan bar kesehatan tradisional. Pertarungan bisa berakhir sangat cepat dengan satu serangan yang tepat. MobyGames menyebut Bushido Blade sebagai seri yang terdiri dari dua permainan yang diciptakan oleh Square dan LightWeight. Seri ini terkenal dengan pertarungan berkisar senjata yang semi-realistis dan sistem cedera pada tubuh karakter. Setelah Bushido Blade 2, seri utamanya tidak berlanjut. Memang ada game lain yang memiliki gaya serupa, seperti Kengo, tetapi Bushido Blade sebagai nama besar tidak kembali menjadi franchise utama. Konsep duel yang realistis ini masih sangat menarik untuk zaman sekarang.

4. Tobal Menghilang Meski Memiliki Sistem Pertarungan yang Kuat

Tobal adalah seri pertarungan yang dibuat oleh DreamFactory dan diterbitkan oleh Square. Permainan ini dikenal karena sistem pertempuran 3D yang halus, grappling yang unik, dan desain karakter oleh Akira Toriyama. Pada masanya, Tobal No. 1 terasa berbeda dari permainan pertarungan lainnya. MobyGames mencatat Tobal No. 1 sebagai permainan pertarungan dengan fitur grappling yang kuat dan mode pencarian. Sementara itu, daftar PlayStation MobyGames juga mencantumkan Tobal 2 sebagai rilis PlayStation pada tahun 1997. Seri ini sempat “dibangkitkan” sebagai permainan mobile Jepang bernama Tobal M. Namun, Wired mencatat bahwa kebangkitan itu hanya hadir untuk ponsel Jepang, bukan sebagai kelanjutan pada konsol besar. Oleh karena itu, bagi para pemain konsol, Tobal tetap terasa seperti seri PS1 yang menghilang terlalu cepat.

5. Jumping Flash! Tidak Diteruskan Setelah Era PS1

Jumping Flash! adalah salah satu permainan platformer 3D awal yang sangat berbeda. Pemain mengendalikan Robbit, seekor kelinci robot yang dapat melompat tinggi dari sudut pandang orang pertama. Ide ini terasa baru dan inovatif pada masa awal PlayStation. Seri ini memiliki dua sekuel di PlayStation, yaitu Jumping Flash! 2 dan Robbit Mon Dieu di Jepang. Namun, judul terbaru dari serinya belum ada setelah akhir era PS1. Bahkan, ada laporan dari MeriStation yang menyebutkan bahwa proyek baru Jumping Flash! untuk PS VR sempat direncanakan, tetapi tidak terwujud. Jika dihadirkan kembali saat ini, Jumping Flash! bisa menjadi game VR atau platformer modern yang jauh berbeda. Sayangnya, seri ini masih lebih sering muncul sebagai kenangan masa lalu.

6. OverBlood Terhenti Setelah Dua Game Survival Horror

OverBlood adalah sebuah game survival horror yang cukup unik di masa PS1. Game ini membawa pemain ke dalam fasilitas misterius dengan berbagai elemen teka-teki, eksplorasi, dan suasana sci-fi. Walaupun tidak sepopuler Resident Evil, game ini memiliki ciri khas tersendiri. OverBlood pertama kali diluncurkan untuk PlayStation pada tahun 1996. Sekuelnya, OverBlood 2, diluncurkan pada tahun 1998. Informasi ini tercantum dalam profil game OverBlood yang menyatakan bahwa sekuelnya dirilis dua tahun setelah game yang pertama. Setelah itu, seri ini tidak melanjutkan dengan sekuel yang besar. Sebenarnya, konsep survival horror sci-fi bisa sangat cocok dengan tren saat ini. Dengan grafis terbaru, suasana OverBlood bisa menjadi lebih menegangkan.

7. Fighting Force Tidak Berhasil Menjadi Beat ’em Up Modern

Fighting Force pernah menjadi salah satu permainan beat ’em up 3D yang populer di PS1. Game ini memungkinkan pemain memilih berbagai karakter untuk melawan musuh di lingkungan kota. Atmosfernya terasa seperti versi 3D dari brawler arcade klasik. MobyGames mencatat Fighting Force sebagai game beat ’em up 3D yang dirilis pada tahun 1997, sementara Fighting Force 2 datang pada tahun 1999 sebagai kelanjutannya. Seri ini kemudian lebih dikenal sebagai kenangan retro, terutama setelah koleksi modern menggabungkan dua permainan klasik PS1 tersebut dalam satu paket. Meskipun dikenang, Fighting Force tidak berkembang menjadi merek besar. Padahal, genre beat ’em up modern kini kembali menarik perhatian dengan game co-op dan aksi arcade.

Mengapa Banyak Seri PS1 Tidak Berlanjut?

Banyak seri game PS1 berhenti karena perubahan signifikan menuju era PS2. Pengembang harus beradaptasi dengan grafis yang lebih rumit, biaya produksi yang lebih tinggi, dan preferensi pemain yang berubah. Tidak semua merek memiliki penjualan yang cukup kuat untuk berlanjut. Selain itu, beberapa studio berganti pemilik atau beralih ke proyek lain. Penerbit juga lebih memilih seri yang sudah terbukti populer. Akibatnya, game yang lebih eksperimental seperti G-Police, Jumping Flash! , atau OverBlood perlahan-lahan terlupakan. Seri Game PS1 yang Hilang Masih Memiliki Peluang Reboot Meski tidak dilanjutkan, beberapa seri di daftar ini masih memiliki potensi besar. Colony Wars bisa menjadi game tempur luar angkasa modern. Bushido Blade bisa kembali sebagai pertarungan yang realistis. OverBlood bisa dihidupkan kembali sebagai survival horror sci-fi. Sementara itu, Tobal dan Fighting Force bisa memanfaatkan tren permainan nostalgia. Jika dikerjakan dengan serius, seri-semi kelasik ini bisa menarik pemain baru sambil memuaskan penggemar lama.

Inilah 7 Seri Game PS1 yang Tak Pernah Ada Lanjutannya

Daftar seri game PS1 yang hilang ini menunjukkan bahwa era PlayStation pertama dipenuhi dengan eksperimen yang berani. Colony Wars, G-Police, Bushido Blade, Tobal, Jumping Flash! , OverBlood, dan Fighting Force memiliki identitas kuat pada zamannya. Sayangnya, tidak semua mampu bertahan setelah generasi PS1 berakhir. Beberapa mati karena pasar berubah, sebagian lain karena publisher tidak melanjutkan proyeknya. Namun, bagi gamer nostalgia, tujuh seri ini tetap layak dikenang dan sangat pantas mendapat kesempatan kedua.

Daftar 7 Seri Game PS1 yang Tak Dilanjutkan

  1. Colony Wars
  2. G-Police
  3. Bushido Blade
  4. Tobal
  5. Jumping Flash!
  6. OverBlood
  7. Fighting Force

Continue Reading

Trending

Copyright © 2026 Lintas Kompas