Compound Putri Indonesia Raih Tiga Medali
JAKARTA – Compound Putri Indonesia berhasil meraih tiga medali dalam ajang Singapore Archery Open 2026 yang menjadi salah satu bagian dari persiapan menuju Asian Games 2026. Torehan tersebut terdiri dari satu medali emas dan dua medali perak yang diraih para pemanah Indonesia pada nomor individu dan beregu putri. Prestasi ini menjadi bekal penting bagi para atlet sebelum bertanding di Asian Games 2026 yang lebih menantang. Tiga medali tersebut diperoleh dari kompetisi individu dan beregu, di mana Nurisa Dian Ashrifah sukses meraih emas individu setelah mengalahkan rekannya, Yurike Nina Bonita Pereira, di final.
Yurike pulang dengan medali perak, sementara medali perak lain diraih oleh tim compound putri Indonesia di kategori beregu. Hasil ini menunjukkan bahwa tim putri compound memiliki potensi untuk bersaing di tingkat internasional dan menunjukkan kedalaman tim yang cukup menjanjikan. Singapore Archery Open 2026 juga menjadi momen bagi para pemanah untuk mengasah skill teknis, menjaga akurasi, serta melatih mental bertanding sebelum mengikuti kompetisi besar di Jepang. Dengan persaingan yang semakin ketat menjelang Asian Games, keberhasilan mendapatkan tiga medali di Singapura diharapkan dapat meningkatkan rasa percaya diri para atlet serta menjadi bahan pertimbangan bagi pelatih.
Nurisa Dian Ashrifah Berhasil Merebut Emas
Nurisa Dian Ashrifah adalah salah satu atlet kunci dalam sukses Indonesia di turnamen ini setelah berhasil memenangkan medali emas di kategori individu compound putri. Atlet asal Indonesia ini harus berhadapan dengan rekannya, Yurike Nina Bonita Pereira, dalam final yang mempertemukan dua pemanah Merah Putih. Pertandingan berlangsung sangat kompetitif karena kedua atlet tampil mengesankan sejak babak sebelumnya. Nurisa akhirnya bisa menjaga akurasi tembakannya dan menyelesaikan pertandingan dengan skor 146-142. Hasil ini menempatkan Nurisa di posisi teratas dan memastikan medali emas bagi Indonesia. Kemenangan ini juga menandakan bahwa persaingan internal dalam sektor compound putri Indonesia sangat ketat.
Dihadirkannya dua atlet Indonesia di final memastikan peluang emas ada di tangan kontingen Merah Putih sebelum pertandingan dimulai. Bagi Nurisa, hasil ini memberikan pengalaman berharga sebelum mengikuti Asian Games 2026. Kemampuan mempertahankan konsentrasi dalam situasi bertekanan adalah hal yang sangat diperlukan dalam kompetisi besar. Selain aspek teknis, seorang atlet panahan juga harus bisa mengendalikan emosinya serta menjaga ritme saat melawan lawan. Penampilan Nurisa di Singapura menunjukkan bahwa dia mampu menghadapi situasi itu dengan baik. Medali emas yang diperolehnya juga menjadi salah satu pencapaian signifikan dalam rangka persiapan jangka panjang tim panahan Indonesia menuju Asian Games Aichi-Nagoya.
Yurike Nina Bonita Tampil Konsisten
Yurik Nina Bonita Pereira juga menunjukkan kinerja yang mengesankan selama Singapore Archery Open 2026. Pemanah asal Indonesia ini berhasil meraih posisi pertama di babak kualifikasi dengan mengumpulkan 695 poin. Angka tersebut setara dengan yang diraih Nurisa, tetapi Yurike berhak berada di urutan teratas berdasarkan hasil kualifikasinya. Sementara itu, Ratih Zil’izati Fadhly berada di posisi keempat dengan 693 poin. Hasil kualifikasi ini menunjukkan bahwa pemanah Indonesia mendominasi posisi atas dalam kategori compound putri. Yurike kemudian melanjutkan perjuangannya sampai semifinal dan harus berhadapan dengan rekannya, Ratih. Pertandingan itu berlangsung sangat ketat karena keduanya menyelesaikan tahap utama dengan skor 143-143.
Untuk menentukan pemenang, dilakukan shoot-off. Dalam momen itu, Yurike berhasil mendapatkan skor 10, sedangkan Ratih mencetak 9. Kemenangan tipis ini mengantarkan Yurike ke final dan memberi peluang untuk final antara atlet asal Indonesia. Namun, Yurike harus mengakui keunggulan Nurisa dengan skor 142-146. Meskipun tidak mendapatkan medali emas, medali perak tetap menjadi hasil positif untuk Yurike. Penampilannya menunjukkan kemampuan untuk mempertahankan performa dari babak kualifikasi hingga final. Konsistensi ini menjadi salah satu modal penting untuk menghadap Asian Games karena persaingan di sana pasti lebih ketat dan diikuti oleh pemanah terbaik dari berbagai negara Asia.
Ratih Zil’izati Fadhly Berjuang hingga Semifinal
Ratih Zil’izati Fadhly juga berperan penting dalam keberhasilan Indonesia di nomor compound putri. Sejak babak kualifikasi, Ratih sudah menunjukkan kekuatan yang cukup dengan menempati urutan keempat dengan skor 693 poin. Posisi ini memberikan dia kesempatan untuk melaju jauh dalam pertandingan individu. Ratih kemudian berhasil melewati beberapa laga hingga mencapai semifinal dan menghadapi Yurike. Pertarungan antara kedua pemanah Indonesia ini berlangsung sengit karena keduanya memiliki skor yang sama, yaitu 143-143. Situasi ini menyebabkan pertandingan harus diputuskan lewat shoot-off, yang membutuhkan ketenangan dan fokus tinggi dari setiap atlet. Dalam penentuan tersebut, Yurike mencetak nilai 10 dan Ratih mendapatkan 9.
Kekalahan tipis ini menghentikan langkah Ratih menuju final. Namun, perjuangannya tetap memiliki makna signifikan bagi kontingen Indonesia karena kehadirannya di semifinal memastikan bahwa wakil Merah Putih mendominasi dalam kategori individu. Ratih juga masih memiliki kesempatan untuk berkontribusi melalui nomor beregu bersama Nurisa dan Yurike. Kerjasama ketiga atlet ini diuji kembali di pertandingan beregu. Pengalaman bertanding dalam situasi ketat seperti semifinal individu menjadi bekal tambahan bagi Ratih sebelum menghadapi kompetisi yang lebih besar. Hasil dari Singapura bisa menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan akurasi, konsistensi, dan kemampuan menjaga fokus di setiap pertandingan selanjutnya.
Tim Compound Putri Indonesia Raih Perak Beregu
Selain menghasilkan hasil positif dari kategori individu, tim compound putri Indonesia juga sukses meraih medali perak dalam kategori beregu. Tim ini terdiri dari Nurisa Dian Ashrifah, Yurike Nina Bonita Pereira, dan Ratih Zil’izati Fadhly. Mereka mampu berkolaborasi dengan baik hingga mencapai babak final. Di semifinal, Indonesia berhadapan dengan SE Archery Club dan berhasil menang dengan skor 229-225. Kemenangan tersebut membawa tim Indonesia ke final sekaligus membuka peluang untuk mendapatkan medali emas. Namun, laga final sangat ketat. Indonesia harus melawan tim Australia yang memberikan perlawanan hingga tembakan terakhir. Selisih skor hanya satu angka membuat pertandingan berlangsung dalam tekanan yang tinggi.
Di akhir laga, Indonesia harus menerima kekalahan tipis dengan skor 230-231 dan mendapatkan medali perak. Meskipun belum berhasil mengamankan medali emas pada kategori beregu, pencapaian ini menunjukkan kemampuan tim compound putri Indonesia dalam bersaing di tingkat internasional. Kekalahan dengan selisih satu angka juga menunjukkan bahwa kualitas permainan Indonesia sudah cukup bersaing. Hal-hal kecil seperti konsistensi setiap tembakan, komunikasi antar atlet, dan kemampuan untuk tetap fokus pada momen penting bisa ditingkatkan sebelum Asian Games. Medali perak ini melengkapi dua medali dari kategori individu, sehingga sektor compound putri Indonesia membawa pulang total tiga medali dari Singapore Archery Open 2026.
Singapore Archery Open Jadi Ujian Penting
Singapore Archery Open 2026 sangat penting dalam persiapan tim panahan Indonesia menjelang Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Turnamen ini memberi atlet kesempatan untuk mengukur kesiapan mereka dalam menghadapi kompetisi internasional sebelum pertandingan utama. Dalam panahan, hasil latihan tidak selalu mencerminkan kondisi atlet saat bertanding. Tekanan dari lawan, suasana arena, cuaca, dan tuntutan untuk mencetak skor tinggi di setiap tembakan bisa memengaruhi performa. Oleh karena itu, berpartisipasi dalam turnamen internasional menjadi bagian penting dari persiapan. Bagi sektor compound putri, keberhasilan meraih tiga medali menunjukkan bahwa atlet mampu tampil baik dalam situasi kompetitif.
Hasil ini juga memberikan kesempatan bagi pelatih untuk melihat area mana yang masih perlu diperbaiki. Konsistensi tembakan, kemampuan menghadapi kompetisi dengan skor ketat, dan pengendalian mental menjadi beberapa elemen penting menjelang Asian Games. Ajang di Singapura juga memberikan pengalaman tambahan bagi atlet untuk menghadapi lawan dengan gaya bertanding yang berbeda. Pengalaman ini diharapkan dapat membantu para pemanah Indonesia saat bersaing di level yang lebih besar di Jepang. Dengan Asian Games Aichi-Nagoya 2026 dijadwalkan berlangsung dari 19 September hingga 4 Oktober 2026, hasil dari turnamen di Singapura menjadi salah satu evaluasi terakhir sebelum atlet menjalani persiapan akhir untuk kompetisi multievent tersebut.
Persiapan Compound Putri Indonesia Jelang Asian Games
Indonesia sedang mempersiapkan beberapa atlet untuk berlaga dalam cabang panahan di Asian Games 2026. Para atlet ini akan bertanding di kategori recurve dan compound, dengan harapan bisa memberikan hasil terbaik untuk tim Merah Putih. Di kategori compound wanita, Nurisa, Yurike, dan Ratih menjadi tiga atlet yang menarik perhatian setelah menunjukkan performa baik di Singapore Archery Open. Mereka tidak hanya dapat bersaing secara individu, tetapi juga mampu bekerja sama dalam kategori beregu. Situasi ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Indonesia karena kemampuan individu dan kerjasama tim sangat dibutuhkan dalam kompetisi beregu. Persiapan menuju Asian Games meliputi peningkatan kemampuan teknis, fisik, dan mental.
Atlet harus menjaga kondisi tubuh agar tetap dalam keadaan baik serta tetap fokus selama lomba. Cabang panahan memiliki karakter pertandingan yang sangat bergantung pada konsistensi, karena kesalahan kecil bisa berpengaruh besar terhadap skor. Oleh karena itu, pengalaman dari turnamen internasional seperti Singapore Archery Open sangat penting untuk mematangkan kesiapan para atlet. Tiga medali yang didapatkan di Singapura menjadi sinyal positif, tetapi tim Indonesia perlu melakukan evaluasi sebelum menghadapi pertandingan Asian Games. Persaingan di Aichi-Nagoya akan melibatkan atlet dari berbagai negara dengan pengalaman internasional yang kuat. Karena itu, hasil di Singapura sebaiknya digunakan sebagai bekal dan pelajaran agar performa para pemanah Indonesia dapat meningkat saat menghadapi kompetisi yang sesungguhnya.
Tiga Medali Jadi Modal Berharga Jelang Asian Games 2026
Perolehan satu medali emas dan dua medali perak menjadi hasil yang menjanjikan bagi cabang compound putri Indonesia menjelang Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Nurisa berhasil meraih juara di nomor individu, Yurike mendapatkan posisi kedua, sementara ketiga atlet Indonesia bersama-sama membawa pulang medali perak dari kategori beregu. Hasil ini menunjukkan bahwa Indonesia memiliki beberapa atlet compound putri yang dapat bersaing hingga akhir turnamen internasional. Namun, hasil baik di Singapura tidak boleh membuat persiapan berhenti. Justru, hasil tersebut bisa menjadi gambaran tentang kekuatan dan kelemahan tim sebelum menghadapi kompetisi yang lebih besar.
Kekalahan tipis 230-231 di nomor beregu menjadi salah satu evaluasi penting, karena menunjukkan bahwa pertandingan bisa ditentukan hanya dengan satu angka. Begitu juga pertandingan semifinal individu yang harus diselesaikan melalui shoot-off menunjukkan pentingnya kesiapan mental dalam situasi yang penuh tekanan. Para atlet masih memiliki waktu untuk memperbaiki diri sebelum Asian Games. Dengan persiapan yang matang, pengalaman bertanding yang cukup, serta kepercayaan diri setelah mendapatkan tiga medali di Singapura, sektor compound putri Indonesia diharapkan dapat memberikan performa terbaik di Jepang. Hasil tersebut menjadi awal yang positif, sekaligus pengingat bahwa konsistensi harus tetap dijaga saat menghadapi pertandingan yang lebih menentukan. Target selanjutnya adalah membawa pengalaman dari Singapura ke Asian Games dan berusaha meraih prestasi terbaik untuk Indonesia.