Connect with us

Nasional

Artis Indonesia Soroti Tuntutan untuk Nadiem Makarim, Dian Sastro hingga Cinta Laura Bersuara

Published

on

Artis Indonesia Soroti Tuntutan untuk Nadiem Makarim

Artis Indonesia Soroti Tuntutan untuk Nadiem Makarim

Banyak Artis Indonesia yang menyoroti kasus mantan Menteri Pendidikan, Riset, Kebudayaan, dan Teknologi, Nadiem Anwar Makarim yang dihadapkan pada hukuman penjara selama 18 tahun karena kasus dugaan korupsi dalam pengadaan laptop Chromebook. Ini terjadi di Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat pada Rabu, 13 Mei 2026. Selain hukuman penjara, Nadiem juga diharuskan untuk membayar uang ganti rugi sejumlah Rp809 miliar dan Rp4,87 triliun, atau jika tidak dibayar, dia akan mendapatkan tambahan hukuman penjara selama 9 tahun. Di sisi lain, tuntutan yang diajukan oleh jaksa kepada Nadiem mendapatkan reaksi pro dan kontra dari publik.

Banyak orang, termasuk sejumlah artis, juga memberikan perhatian terhadap tuntutan ini di media sosial. Di antara mereka ada Dian Sastro, Maudy Ayunda, dan Cinta Laura, serta lainnya. Situasi ini segera memicu diskusi yang luas di platform media sosial dan menarik perhatian banyak tokoh masyarakat di Indonesia. Banyak artis dan tokoh kreatif nasional aktif menyuarakan pandangan mereka secara terbuka di media sosial. Sebagian besar dari mereka menilai tuntutan terhadap Nadiem memunculkan sejumlah pertanyaan serius tentang sistem hukum dan iklim inovasi di Indonesia.

Dian Sastro Beri Dukungan Terbuka

Dian Sastro merupakan salah satu artis yang pertama kali menunjukkan dukungannya kepada Nadiem Makarim secara terbuka. Melalui Instagram Story, aktris film Ada Apa dengan Cinta? itu membagikan kembali cuplikan wawancara Nadiem sambil menyertakan pesan singkat yang menunjukkan kepedulian. Dian mengungkapkan keyakinan bahwa Nadiem adalah individu yang baik.

Maudy Ayunda dan Cinta Laura Soroti Dampaknya untuk Anak Muda

Maudy Ayunda mengungkapkan rasa sedih dan marah terhadap situasi yang dihadapi Nadiem. Menurut Maudy, peristiwa ini bisa memberikan dampak negatif kepada generasi muda yang ingin berperan dalam pemerintahan atau dunia pendidikan. Ia berpendapat bahwa individu-individu yang memiliki niat baik dan berupaya memanfaatkan perubahan justru menghadapi tekanan besar ketika terjun ke dalam sistem pemerintahan. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Cinta Laura. Dalam unggahannya, Cinta menyatakan bahwa kasus ini adalah momen yang menyedihkan karena dapat membuat banyak talenta terbaik Indonesia enggan untuk melakukan inovasi dan perubahan. Menurutnya, persoalan ini tidak hanya mengenai satu orang, tetapi juga berkaitan dengan cara negara memperlakukan mereka yang memiliki visi serta keberanian untuk berinovasi.

Jerome Polin hingga Jovial da Lopez Ikut Bereaksi

Jerome Polin pun mengekspresikan kekecewaannya melalui media sosial. Dia bahkan mengaku merasa hancur karena memiliki harapan untuk bisa berkontribusi dalam bidang pendidikan di Indonesia. Jerome mempertanyakan betapa beratnya tuntutan yang dijatuhkan kepada Nadiem bila dibandingkan dengan beberapa kasus besar lainnya. Ia merasa banyak fakta dan bukti dalam persidangan belum sepenuhnya menjawab tuduhan yang ada. Sementara itu, Jovial da Lopez tidak mengerti bagaimana seseorang seperti Nadiem, yang telah sukses membangun Gojek, bisa terjebak dalam kasus besar tersebut. Jovial berpendapat bahwa mungkin terdapat masalah sistemik atau birokrasi yang lebih dalam di balik kasus ini.

Ernest Prakasa dan Joko Anwar Ikut Menyoroti

Ernest Prakasa memberikan komentar satiris di media sosial setelah mengikuti berita tuntutan terhadap Nadiem. Ia menyebutkan perbandingan hukuman dengan berbagai kasus kriminal lain yang dianggap publik lebih berat. Di sisi lain, Joko Anwar tidak memberikan pernyataan langsung, tetapi aktif membagikan ulang berbagai postingan yang mempertanyakan tuntutan terhadap Nadiem Makarim. Keikutsertaan banyak tokoh publik dalam pembahasan ini membuat kasus ini semakin hangat dibicarakan, terutama di media sosial.

Tak Hanya Artis Indonesia yang Komentar, Pro dan Kontra Terus Bermunculan di Berbagai Kalangan

Kasus Nadiem Makarim kini tidak sekedar menjadi persoalan hukum, tetapi meluas menjadi diskusi publik mengenai reformasi birokrasi, sistem pengadaan teknologi pendidikan, serta iklim inovasi di Indonesia. Sebagian individu dalam komunitas mengapresiasi jalannya hukum yang sedang berlangsung dan menuntut agar penyelidikan dilakukan secara menyeluruh dan terbuka. Namun, ada juga kelompok lain yang meragukan kewajaran dari tuntutan yang dinilai terlalu berat dan merasa khawatir bahwa kasus ini bisa berdampak negatif pada motivasi generasi muda untuk berpartisipasi dalam pemerintahan.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Nasional

Mendagri Soroti Disiplin Honorer, Datang Pagi Pulang Cepat

Published

on

Honorer Datang Jam 8 dan Pulang Cepat , Mendagri Soroti Disiplin

Honorer Datang Jam 8 dan Pulang Cepat , Mendagri Soroti Disiplin Honorer Serta Evaluasi Kerja

Honorer yang datang pada jam 8 menjadi bahan pembicaraan hangat setelah Menteri Dalam Negeri mengangkat isu kedisiplinan sejumlah pegawai honorer di pemerintahandan fakta yang  menyatakan bahwa masih ada kebiasaan pegawai yang tiba di kantor di pagi hari tetapi meninggalkan tempat kerja hanya beberapa jam kemudian. Pernyataan ini langsung menarik perhatian masyarakat karena berkaitan dengan produktivitas, pelayanan publik, dan budaya kerja yang sudah lama diperhatikan oleh pemerintah. Perhatian terhadap disiplin kerja pegawai bukanlah hal baru.

Selama beberapa tahun terakhir, pemerintah terus mendorong adanya perubahan dalam birokrasi agar pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih cepat, profesional, dan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam konteks ini, kehadiran pegawai di kantor tidak hanya diukur dari kehadiran belaka, tetapi juga dari sumbangsih nyata terhadap pekerjaan dan pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

Disiplin Kerja Menjadi Fondasi Pelayanan Publik

Kedisiplinan merupakan salah satu elemen penting dalam menciptakan birokrasi yang berjalan dengan baik. Ketika pegawai melaksanakan tugas sesuai dengan jam kerja dan tanggung jawab yang ada, pelayanan publik dapat berlangsung dengan lebih baik. Sebaliknya, jika budaya kerja yang kurang disiplin dibiarkan berkembang, maka mutu pelayanan mungkin akan menurun. Orang-orang saat ini menginginkan pelayanan yang lebih cepat dan responsif. Oleh sebab itu, setiap pegawai pemerintah, termasuk tenaga honorer, mempunyai tanggung jawab untuk menjaga profesionalisme selama jam kerja. Kehadiran di kantor harus disertai dengan produktivitas yang jelas agar tujuan pelayanan kepada masyarakat bisa tercapai secara maksimal.

Pernyataan Mendagri Memicu Diskusi Publik

Pernyataan tentang pegawai yang datang pagi namun pulang lebih cepat memicu berbagai reaksi dari masyarakat. Beberapa pihak memandang pernyataan itu sebagai evaluasi yang diperlukan untuk memperbaiki budaya kerja dalam pemerintahan. Namun, ada juga yang beranggapan bahwa keadaan itu tidak dapat digeneralisasi karena banyak tenaga honorer yang terus bekerja dengan setia. Perdebatan ini menunjukkan bahwa masalah kedisiplinan masih menjadi perhatian yang penting dalam birokrasi Indonesia. Masyarakat berharap evaluasi yang dilakukan pemerintah dapat menghasilkan perbaikan nyata tanpa mengabaikan kontribusi tenaga honorer yang selama ini telah bekerja dengan penuh profesionalisme.

Tenaga Honorer Memiliki Peran Penting

Di berbagai lembaga pemerintah, tenaga honorer memiliki peran yang cukup signifikan dalam mendukung operasional sehari-hari. Mereka membantu berbagai tugas administratif, pelayanan publik, hingga kegiatan teknis yang mendukung pelaksanaan program pemerintah. Oleh karena itu, peningkatan disiplin kerja tidak hanya bertujuan untuk memperbaiki citra birokrasi, tetapi juga untuk memastikan bahwa setiap tenaga honorer dapat memberikan kontribusi maksimal. Dengan sistem kerja yang lebih terorganisir, tenaga honorer dapat menunjukkan kemampuan dan profesionalisme yang telah menjadi bagian penting dari pelayanan publik.

Budaya Kerja Profesional Harus Dibangun Bersama

Membangun budaya kerja yang profesional tidak bisa hanya bergantung pada aturan atau pengawasan saja. Dibutuhkan kesadaran bersama dari semua pegawai untuk menjalankan tugas dengan penuh tanggung jawab. Pemimpin lembaga juga memainkan peran penting dalam memberi contoh yang baik kepada anak buahnya. Selain itu, sistem evaluasi yang jelas dan objektif dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih baik. Pegawai yang menunjukkan kinerja baik perlu mendapatkan penghargaan, sedangkan pelanggaran disiplin harus ditindak sesuai aturan yang ada.

Reformasi Birokrasi Menuntut Perubahan Pola Kerja

Transformasi yang dilakukan oleh pemerintah dalam birokrasi membutuhkan perubahan dalam cara kerja yang lebih modern dan fokus pada hasil. Tidak hanya cukup untuk hadir secara fisik di kantor, tetapi setiap pegawai harus mampu menunjukkan produktivitas dan hasil kerja yang jelas. Kemajuan teknologi juga membuat pengawasan terhadap kinerja menjadi lebih terukur. Dengan adanya sistem digital dan indikator kinerja yang jelas, instansi pemerintah dapat menilai kontribusi pegawai secara lebih objektif dibanding hanya memperhatikan kehadiran saja.

Harapan untuk Kualitas Pegawai Honorer Maupun Non-Honorer di Masa Depan

Perhatian terhadap disiplin pegawai honorer diharapkan dapat menjadi momen untuk memperkuat budaya kerja yang lebih baik di lingkungan pemerintahan. Masyarakat menginginkan pegawai yang tidak hanya datang tepat waktu, tetapi juga mampu memberikan pelayanan yang berkualitas dan profesional. Di masa depan, peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor pemerintahan akan menjadi hal penting dalam mendukung pembangunan nasional. Dengan sikap disiplin, integritas, dan etos kerja yang baik, pegawai pemerintah dapat memenuhi harapan masyarakat terhadap pelayanan publik yang semakin baik.

Continue Reading

Nasional

Diplomasi Berhasil, Eksekusi Masih Jadi Tantangan

Published

on

Diplomasi Berhasil, Eksekusi Masih Jadi Tantangan

Diplomasi Berhasil dan Eksekusi Masih Jadi Tantangan, Menjadi Dua Hal yang Tak Terpisahkan

Diplomasi dan pelaksanaan sering kali menjadi dua bagian yang sangat penting dalam keberhasilan suatu kebijakan serta kerja sama antarnegara. Dalam banyak situasi, keberhasilan diplomasi dapat menghasilkan beragam kesepakatan strategis yang menguntungkan semua pihak yang terlibat. Namun, tantangan sebenarnya sering muncul setelah kesepakatan ditandatangani. Pelaksanaan di lapangan sering kali menemui banyak rintangan yang menghalangi hasil diplomasi untuk berjalan seperti yang diharapkan. Hal ini bukan hanya terjadi di antara negara, tetapi juga dalam berbagai program pembangunan, investasi, perdagangan, serta kerja sama di bidang kemanusiaan. Keberhasilan diplomasi biasanya terlihat dari tercapainya kesepahaman antara pihak-pihak yang sebelumnya memiliki kepentingan berbeda. Namun, kesepakatan yang tercatat di atas kertas tidak selalu mencerminkan keberhasilan yang nyata. Banyak faktor yang berpengaruh pada pelaksanaan, mulai dari birokrasi, peraturan, sumber daya, hingga perubahan kondisi politik. Oleh karena itu, diplomasi yang berhasil harus diikuti oleh strategi pelaksanaan yang matang agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh masyarakat.

Keberhasilan Diplomasi Sering Menjadi Awal yang Baik

Di dunia internasional, diplomasi menjadi alat utama untuk membangun hubungan yang harmonis antarnegara. Melalui diplomasi, berbagai masalah dapat diselesaikan tanpa terjadinya konflik yang terbuka. Berbagai perjanjian perdagangan, kerjasama investasi, dan penyelesaian masalah sering kali tercapai berkat pendekatan diplomasi yang efektif. Namun keberhasilan ini sebenarnya baru merupakan langkah pertama. Setelah kesepakatan tercapai, masih diperlukan upaya keras dari berbagai pihak untuk memastikan semua poin yang telah sepakat dapat dilaksanakan. Tidak jarang sebuah perjanjian yang terlihat menjanjikan justru berjalan lambat karena berbagai kendala teknis yang muncul setelah proses diplomasi selesai.

Hambatan Pelaksanaan Sering Dimulai dari Birokrasi

Salah satu penghalang terbesar dalam melaksanakan hasil diplomasi adalah birokrasi. Banyak program yang memerlukan koordinasi antar lembaga, sehingga proses pelaksanaannya menjadi lebih rumit. Perbedaan dalam aturan, prosedur administrasi, dan kewenangan antara instansi sering kali memperlambat penerapan kebijakan yang sebenarnya sudah disetujui. Pada beberapa kesempatan, proses birokrasi yang panjang menyebabkan investor atau mitra kerja sama kehilangan semangat. Padahal, tujuan utama diplomasi sering kali adalah untuk menciptakan peluang ekonomi yang lebih besar. Jika pelaksanaan tidak berjalan dengan cepat dan efisien, manfaat yang diharapkan bisa menghilang secara signifikan.

Perubahan Kondisi Global Juga Mempengaruhi Pelaksanaan

Faktor lain yang sering mempengaruhi pelaksanaan hasil diplomasi adalah perubahan keadaan global. Situasi ekonomi dunia, konflik geopolitik, perubahan harga barang, hingga krisis kesehatan dapat mengubah prioritas negara-negara yang terlibat dalam suatu kerjasama. Kesepakatan yang dibuat dalam situasi tertentu mungkin akan menghadapi tantangan baru saat lingkungan global berubah. Oleh karena itu, kemampuan untuk beradaptasi dan bersikap fleksibel menjadi sangat penting agar pelaksanaan tetap berjalan meski menghadapi dinamika internasional yang terus berubah.

Dukungan Politik Jadi Faktor Kunci Diplomasi yang Berhasil

Pelaksanaan yang sukses membutuhkan juga dukungan politik yang kuat. Sebuah kebijakan atau perjanjian internasional sering memerlukan persetujuan dari berbagai pihak di dalam negeri. Jika dukungan politik menurun, proses pelaksanaan bisa terhambat bahkan terhenti. Oleh karena itu, komunikasi yang baik kepada masyarakat dan pemangku kepentingan sangat penting dalam proses pelaksanaan. Keberhasilan diplomasi akan lebih mudah tercapai jika semua pihak memahami manfaat dan tujuan dari kerjasama yang telah disepakati.

Pentingnya Pengawasan dan Evaluasi

Agar hasil dari diplomasi tidak hanya menjadi wacana, sangat penting untuk memiliki sistem pemantauan dan penilaian yang efisien. Setiap langkah dari pelaksanaan harus diperiksa secara rutin untuk memastikan bahwa tujuan yang telah ditentukan dapat dicapai. Penilaian juga sangat diperlukan untuk mengetahui masalah yang muncul saat pelaksanaan. Dengan cara ini, pemerintah dan pihak terkait bisa segera mengambil tindakan perbaikan sebelum masalah menjadi lebih serius. Pendekatan ini membantu memastikan bahwa hasil diplomasi benar-benar memberikan pengaruh yang nyata.

Diplomasi Berhasil dan Pelaksanaan Harus Seimbang

Keberhasilan suatu kebijakan tidak hanya bergantung pada kemampuan untuk mencapai kesepakatan, tetapi juga pada kemampuan untuk melaksanakan kesepakatan tersebut. Diplomasi yang kuat tanpa pelaksanaan yang baik hanya akan menghasilkan janji kosong. Di sisi lain, pelaksanaan yang baik memerlukan dasar diplomasi yang kuat agar memiliki arah dan tujuan yang jelas. Oleh karena itu, keseimbangan antara diplomasi dan pelaksanaan sangat penting. Ketika keduanya berjalan bersamaan, berbagai kerja sama dan program strategis memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan pembangunan nasional.

Continue Reading

Nasional

Ledakan Bom PD II di Biak Papua, Lokasi Langsung Disterilkan dan 17 Potongan Tubuh Ditemukan

Published

on

Ledakan Bom PD II di Biak Papua, Lokasi Disterilkan !

Ledakan Bom PD II di Biak Papua, Lokasi Langsung Disterilkan dan 17 Potongan Tubuh Ditemukan

Ledakan bom PD II di Biak Papua menyebabkan kesedihan dan rasa cemas di kalangan penduduk setempat. Peristiwa Ledakan yang diyakini merupakan hasil dari bom era Perang Dunia II itu berlangsung di area pemukiman penduduk. Akibat kejadian tersebut, beberapa korban kehilangan nyawa, rumah warga rusak, dan daerah kejadian harus dibersihkan oleh tim penjinak bom. Polda Papua kemudian mengirimkan tim Penjinak Bom atau Jibom dari Gegana Brimob untuk menyelidiki lokasi ledakan. Proses pembersihan ini perlu dilakukan karena ada kemungkinan benda berbahaya lainnya di sekeliling lokasi kejadian. Menurut laporan ANTARA, tempat ledakan terletak di Kompleks Perumahan Nelayan, Kabupaten Biak Numfor, dan diduga terkait dengan mortir dari zaman Perang Dunia II.

Ledakan Bom PD II di Biak Papua Diduga Berasal dari Peninggalan Perang Dunia II

Dugaan awal menyatakan bahwa ledakan bom di Biak Papua terjadi akibat bahan peledak kuno dari Perang Dunia II. Biak memang menyimpan sejarah panjang terkait peperangan. Oleh karena itu, keberadaan sisa amunisi atau mortir tua menjadi ancaman bagi penduduk setempat. Namun, polisi belum dapat memastikan jenis bahan peledak dengan jelas. Tim Laboratorium Forensik Polda Papua masih melakukan penyelidikan terhadap sampel dari lokasi kejadian. Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Papua Kombes Parasian Herman Gultom menyebutkan bahwa sampel telah diambil untuk analisis lebih lanjut.

Lokasi Ledakan Belum Dinyatakan Aman

Area kejadian tidak dapat langsung dibuka karena tim Jibom masih menjalankan proses pembersihan. Tindakan ini penting untuk memastikan tidak ada sisa bahan peledak lain yang bisa membahayakan warga dan petugas. Selama pembersihan berlangsung, analisis lokasi kejadian tidak bisa dilakukan sepenuhnya. Kapolres Biak Numfor AKBP Ari Trestiawan menjelaskan bahwa analisis TKP hanya akan dilakukan setelah lokasi benar-benar dinyatakan bersih dari bahan peledak. Pernyataan ini menunjukkan bahwa keselamatan menjadi hal yang sangat utama sebelum penyidik menyelidiki lebih dalam tentang penyebab ledakan.

Tim DVI Polda Papua Identifikasi Potongan Tubuh Korban

Setelah ledakan, tim SAR gabungan menemukan beberapa potongan tubuh yang diyakini merupakan bagian dari korban. Polda Papua kemudian mengirimkan tim Disaster Victim Identification atau DVI ke Biak untuk melakukan identifikasi. Tim DVI dan laboratorium forensik langsung menuju RSUD Biak setelah tiba pada Selasa, 2 Juni 2026. ANTARA sebelumnya melaporkan bahwa tim SAR gabungan menemukan 13 potongan tubuh pada Senin sore, 1 Juni 2026. Sementara itu, beberapa laporan lain menyebutkan bahwa jumlah potongan tubuh yang ditemukan terus bertambah. Proses identifikasi sangat penting agar keluarga korban mendapatkan kepastian resmi.

Korban Jiwa dan Kerusakan Rumah Akibat Ledakan

Kejadian ledakan bom di Biak Papua berdampak besar terhadap masyarakat sekitar. Kapolres Biak Numfor melaporkan bahwa lima orang meninggal dan sudah dikebumikan pada Senin sore, 1 Juni 2026. Selain itu, tiga orang sempat dinyatakan hilang setelah ledakan terjadi. Rumah-rumah penduduk juga mengalami kerusakan. Setidaknya sembilan rumah dilaporkan rusak karena ledakan tersebut. Kondisi ini menunjukkan betapa kuatnya daya ledak benda yang diduga berasal dari peninggalan perang yang sudah lama.

Tim Labfor Menyelidiki Jenis Bahan Peledak

Tim Labfor Polda Papua masih menyelidiki jenis bahan peledak terkait insiden ini. Pemeriksaan dilakukan terhadap sampel yang diambil dari lokasi kejadian. Hasil dari pemeriksaan ini nantinya akan membantu polisi memastikan apakah ledakan itu benar-benar berasal dari mortir, bom kuno, atau jenis bahan peledak lainnya. Penyelidikan forensik sangat penting untuk memahami bagaimana benda itu bisa meledak. Polisi perlu mencari tahu apakah ledakan disebabkan oleh penanganan yang salah, kegiatan tertentu di sekitar area, atau alasan lain yang bisa membuat bahan peledak aktif lagi.

Warga Diharapkan Waspada terhadap Barang yang Mencurigakan

Kasus ini menjadi peringatan yang serius bagi masyarakat di daerah yang memiliki sejarah perang. Jika menemukan benda logam yang mencurigakan, sebaiknya warga tidak menyentuh, memindahkan, atau mencoba membuka benda tersebut. Cara yang paling aman adalah segera melaporkan kepada pihak berwenang setempat. Benda peninggalan perang mungkin terlihat tua dan tampak tidak berbahaya. Namun, beberapa amunisi lama masih dapat meledak jika terkena benturan, panas, gesekan, atau penanganan yang tidak tepat. Oleh karena itu, penting untuk memberikan edukasi kepada masyarakat.

Pemerintah dan Pihak Berwenang Perlu Memetakan Wilayah Rawan

Kejadian ledakan bom di Biak Papua menunjukkan betapa pentingnya memetakan daerah yang berpotensi memiliki barang sisa dari perang. Pemerintah daerah, kepolisian, TNI, dan lembaga terkait lainnya harus bekerja sama untuk mencatat lokasi yang mungkin menyimpan mortir atau amunisi lama. Pemetaan ini bisa membantu untuk mencegah kejadian serupa. Selain itu, masyarakat juga perlu diberikan informasi mengenai ciri-ciri barang berbahaya dan cara untuk melaporkannya. Dengan tindakan pencegahan, risiko ledakan akibat sisa amunisi perang bisa diminimalkan.

Ledakan Bom PD II di Biak Papua, Lokasi Disterilkan !

Ledakan bom di Biak Papua diduga berasal dari bahan peledak peninggalan Perang Dunia II. Insiden ini mengakibatkan korban jiwa, kerusakan rumah, dan penemuan potongan tubuh yang kini sedang diidentifikasi oleh tim DVI Polda Papua. Lokasi kejadian masih dalam proses sterilisasi oleh tim Jibom karena belum dinyatakan aman. Sementara itu, tim Labfor terus menyelidiki jenis bahan peledak yang menyebabkan ledakan. Peristiwa ini mengingatkan kita bahwa sisa amunisi perang masih bisa menjadi ancaman nyata bagi masyarakat.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2026 Lintas Kompas