Mahasiswa Beri Gibran Tenggat 5×24 Jam
Mahasiswa beri Gibran waktu 5×24 jam setelah 15 perwakilan mahasiswa meninggalkan Istana Wakil Presiden di Jakarta, pada hari Senin, 15 Juni 2026. Sebelumnya, mereka bertemu dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka setelah melakukan aksi di sekitar Patung Kuda, Jakarta Pusat. Pertemuan ini melibatkan mahasiswa dari Universitas Bung Karno dan Universitas MH Thamrin. Dalam pertemuan itu, mahasiswa menyampaikan berbagai harapan dan kritik terhadap kebijakan pemerintah. Pihak Istana Wapres menyatakan bahwa Gibran membuka kesempatan untuk berdialog dan menerima masukan dari mahasiswa untuk perbaikan program nasional.
Gibran Catat Permintaan Mahasiswa di Buku Kecil
Salah satu momen yang menarik perhatian adalah ketika Gibran dikabarkan mencatat permintaan mahasiswa dalam buku kecil. Mahasiswa menyampaikan berbagai isu penting, termasuk program Makan Bergizi Gratis atau MBG, Koperasi Desa Merah Putih, masalah pendidikan, revisi undang-undang, dan pembangunan daerah tertinggal. Bagi mahasiswa, catatan tersebut dianggap belum memadai jika tidak diikuti dengan tindakan konkret. Mereka meminta pemerintah segera mengambil langkah nyata. Oleh karena itu, tenggat 5×24 jam ditetapkan agar tuntutan tidak hanya berhenti di pembicaraan.
Permintaan Fokus pada MBG hingga Harga BBM
Beberapa tuntutan mahasiswa mengarahkan perhatian pada masalah ekonomi dan kebijakan strategis. Suara. com melaporkan bahwa mereka meminta audit untuk program makan gratis, revisi UU Polri, stabilitas ekonomi, dan penanganan harga BBM. Katadata juga mencatat bahwa tuntutan mahasiswa mencakup program MBG, penurunan nilai tukar rupiah, serta kenaikan harga BBM non-subsidi. Isu-isu tersebut dianggap memiliki dampak langsung pada masyarakat dan berkaitan dengan kebijakan pemerintah.
Mahasiswa Ancam Melakukan Aksi Lanjutan
Perwakilan mahasiswa menegaskan mereka tidak akan berhenti pada pertemuan tersebut. Mereka memberikan tenggat 5×24 jam kepada pemerintah untuk menanggapi tuntutan. Jika tidak ada tindakan atau perkembangan, mahasiswa memperingatkan akan kembali turun ke jalan dengan lebih banyak orang. Ancaman untuk melakukan aksi lanjutan ini menunjukkan bahwa mahasiswa ingin audiensi dengan Gibran menghasilkan tindakan nyata. Mereka tidak ingin pertemuan hanya menjadi simbol dialog tanpa adanya keputusan yang jelas.
Mahasiswa beri Gibran waktu 5×24 Tetapi Wapres Menyangkal Ada Kesepakatan Tenggat
Meskipun mahasiswa memberikan tenggat 5×24 jam, pihak Istana Wapres menyatakan bahwa tidak ada kesepakatan resmi mengenai batas waktu tersebut. SindoNews melaporkan bahwa Istana menegaskan tenggat itu berasal dari pernyataan mahasiswa, bukan kesepakatan bersama dalam audiensi. Perbedaan pandangan ini membuat posisi kedua pihak terlihat bertolak belakang. Mahasiswa menekan pemerintah dengan ultimatum, sedangkan Istana menganggap pertemuan sebagai kesempatan untuk berdialog serta mengumpulkan aspirasi.
Gibran Mengatakan Banyak Hal Perlu Diperbaiki
Dalam pernyataan resmi, Gibran mengatakan pemerintah menyadari bahwa masih ada kekurangan dalam berbagai program. Ia menekankan bahwa apa yang sudah ada perlu dijaga, dan kekurangan harus diperbaiki bersama. Pernyataan ini merupakan tanggapan awal terhadap kritik mahasiswa. Namun, mahasiswa tetap menunggu langkah nyata dalam waktu dekat. Bagi mereka, komitmen politik harus tampak melalui tindakan, bukan hanya pernyataan.
Audiensi Menjadi Perhatian Publik
Pertemuan antara Gibran dan mahasiswa menarik perhatian karena terjadi setelah aksi demonstrasi. 15 perwakilan mahasiswa masuk ke Istana Wapres untuk menyampaikan pendapat secara langsung. Mereka kemudian keluar dengan membawa pesan bahwa tuntutan telah disampaikan dan harus segera direalisasikan. Momen ini juga menunjukkan bahwa mahasiswa masih menggunakan dua pendekatan sekaligus. Mereka menyampaikan kritik lewat aksi demonstrasi, lalu melakukan dialog langsung dengan pejabat negara.
Mahasiswa beri Gibran waktu 5×24 Jam untuk Memenuhi Tuntutan Rakyat
Mahasiswa memberikan Gibran waktu 5×24 jam setelah melakukan pertemuan langsung di Istana Wapres. Mereka menuntut agar diambil tindakan atas berbagai masalah, termasuk MBG, Koperasi Desa Merah Putih, perubahan regulasi, situasi ekonomi, hingga harga bahan bakar. Pemerintah melalui Istana Wapres mengungkapkan kesediaan untuk mendengarkan keinginan mahasiswa. Namun, mahasiswa menekankan bahwa mereka akan melakukan aksi lanjutan jika tuntutannya tidak ditanggapi dengan serius. Masalah ini kini menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menangani kritik dari masyarakat dengan cepat dan tepat.