Nasional
34 Santri Masih Dirawat Usai Diduga Keracunan MBG di Sidoarjo
Published
2 months agoon
By
admin lintas
34 Santri Sidoarjo Masih Menjalani Perawatan
SIDOARJO – Sebanyak 34 santri di Sidoarjo masih mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Hajar setelah diduga mengalami keracunan akibat makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebelumnya, para santri tersebut mengalami beberapa masalah kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang disediakan di lingkungan Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo. Hingga Rabu (2/9/2026), dilaporkan bahwa keadaan para santri yang masih dirawat semakin membaik. Mereka tetap dalam pengawasan tim medis untuk memastikan kesehatan mereka stabil sebelum diizinkan pulang. Kejadian ini menjadi fokus perhatian karena banyaknya santri yang memerlukan perawatan medis.
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo bersama pihak terkait melakukan pemantauan terhadap keadaan pasien dan menunggu hasil pemeriksaan untuk mengetahui penyebab keluhan kesehatan ini. Bupati Sidoarjo Subandi juga mengunjungi rumah sakit untuk melihat keadaan para santri secara langsung. Dalam kunjungan tersebut, ia mendengar kabar bahwa sebagian besar pasien sedang mengalami perbaikan yang positif. Dengan kondisi yang semakin baik, pemerintah berharap para santri yang masih dirawat dapat segera berkumpul kembali dengan keluarga dan melanjutkan aktivitas normal setelah mendapatkan izin dari dokter.
Kondisi 34 Santri Sidoarjo Mulai Berangsur Membaik
Bupati Sidoarjo Subandi menyatakan bahwa kondisi 34 santri Sidoarjo yang masih dirawat di RSI Siti Hajar sudah menunjukkan kemajuan yang baik. Ia mengatakan bahwa selama di rumah sakit, para santri terus diawasi oleh tenaga kesehatan. Keadaan mereka dinilai lebih stabil dibandingkan saat pertama kali dirawat. Pemerintah berharap semua pasien dapat segera dipulangkan jika hasil pemeriksaan medis menunjukkan bahwa mereka bisa melanjutkan pemulihan di rumah. Para santri diperkirakan dapat kembali ke rumah masing-masing pada Kamis (3/9/2026) pagi jika tidak ada masalah kesehatan yang mengharuskan mereka tetap di rumah sakit. Sementara itu, beberapa santri yang sebelumnya dirawat di RSUD R. T.
Notopuro Sidoarjo sudah diizinkan pulang. Lima santri yang keluar pada Rabu sore adalah pasien terakhir yang dirawat di rumah sakit tersebut. Perkembangan ini menunjukkan bahwa sebagian pasien yang sebelumnya mengalami masalah kesehatan setelah makan MBG telah berhasil melewati perawatan medis. Meski demikian, pemerintah tetap meminta agar kesehatan para santri dipantau hingga benar-benar pulih. Pemulihan menjadi fokus utama setelah insiden tersebut, sementara proses penyelidikan mengenai makanan yang dikonsumsi masih berlangsung. Pemerintah juga belum mengeluarkan kesimpulan mengenai penyebab kejadian ini sebelum semua hasil pemeriksaan yang diperlukan selesai.
Ratusan Santri Sempat Mendapat Penanganan
Sebelum menyisakan 34 santri di Sidoarjo yang masih dirawat, jumlah santri yang menerima perhatian medis pernah mencapai ratusan. Mereka yang mengalami masalah kesehatan dibawa ke beberapa tempat medis untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan sesuai kebutuhan mereka. Beberapa pasien hanya memerlukan perawatan dan pemantauan untuk sementara waktu sebelum diizinkan pulang. Sedangkan yang butuh pengawasan lebih intensif harus dirawat di rumah sakit. Salah satu rumah sakit yang menangani banyak santri adalah RSI Siti Hajar. Di rumah sakit ini, sebanyak 83 santri mendapatkan penanganan. Dari jumlah tersebut, 34 santri dirawat inap, sementara 49 lainnya mendapatkan perawatan rawat jalan.
Perbedaan dalam penanganan ini berdasarkan pada kondisi kesehatan masing-masing setelah diperiksa oleh tenaga medis. Kejadian ini membuat kegiatan di pesantren menjadi perhatian bagi pemerintah daerah dan pihak lainnya. Penanganan kepada para santri dilakukan secara bertahap seiring dengan kedatangan pasien ke fasilitas medis. Meskipun jumlah pasien cukup banyak, mayoritas santri dilaporkan mulai membaik setelah mendapatkan perawatan. Pemerintah kemudian fokus pada kondisi pasien yang masih dirawat inap serta melakukan koordinasi untuk mengetahui penyebab keluhan kesehatan yang muncul bersamaan setelah makan makanan MBG.
Santri Mengalami Masalah Kesehatan Setelah Makan MBG
Kejadian yang dialami 34 santri Sidoarjo dimulai setelah mereka di Pondok Pesantren Manba’ul Hikam mendapatkan makanan dari program Makan Bergizi Gratis pada Selasa (1/9/2026) siang. Setelah menyantap makanan tersebut, beberapa santri mengalami masalah kesehatan dan perlu pemeriksaan medis. Situasi ini kemudian menarik perhatian dari pihak pesantren dan pemerintah daerah. Santri yang menunjukkan gejala dibawa untuk mendapatkan perawatan di fasilitas medis. Hingga saat ini, hubungan antara makanan MBG dan keluhan kesehatan masih dalam pemeriksaan dan belum bisa dipastikan sebagai penyebab. Oleh karena itu, istilah dugaan keracunan masih digunakan sambil menunggu hasil dari laboratorium.
Pemeriksaan ini penting untuk mengetahui apakah ada zat tertentu dalam makanan yang bisa menyebabkan masalah kesehatan atau ada faktor lain yang mempengaruhi kondisi santri. Makanan yang dikonsumsi juga akan diperiksa untuk memastikan keamanan dan kualitasnya. Pemerintah dan instansi terkait terus berkoordinasi dalam menangani kejadian ini. Selain memastikan pasien mendapatkan perawatan medis, pemeriksaan juga diperlukan agar langkah selanjutnya dapat diambil berdasarkan hasil yang objektif. Dengan begitu, penyebab kejadian tidak hanya didasarkan pada dugaan atau informasi awal yang beredar. Santri yang telah diperbolehkan pulang diharapkan tetap memperhatikan kesehatan mereka dan segera memeriksakan diri jika mengalami keluhan setelah pemulihan di rumah.
Hasil Pemeriksaan Laboratorium Masih Ditunggu
Hingga sekarang, alasan pasti mengapa 34 santri di Sidoarjo harus dirawat masih belum diketahui. Pemerintah dan pihak terkait masih menunggu hasil pemeriksaan lab terhadap makanan yang dimakan santri. Pemeriksaan ini bertujuan untuk menemukan informasi tentang kemungkinan adanya faktor yang membuat mereka mengeluh tentang kesehatan. Hasil lab diharapkan dapat memberikan penjelasan lebih jelas tentang keadaan makanan dan membantu pihak berwenang mengambil langkah selanjutnya. Proses pemeriksaan memerlukan waktu, jadi kesimpulan tentang penyebab kejadian tidak bisa langsung diberikan. Hasil pemeriksaan diperkirakan bisa diketahui dalam waktu sekitar satu minggu. Sambil menunggu hasil tersebut, pemerintah terus memantau keadaan santri yang masih dirawat.
Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa pasien mendapatkan perawatan yang diperlukan hingga keadaan kesehatan mereka stabil. Selain itu, pemeriksaan terhadap makanan sangat penting dalam mengevaluasi berlangsungnya program MBG di lokasi tersebut. Pemerintah perlu memastikan bahwa makanan yang diberikan kepada penerima manfaat aman dan layak konsumsi. Jika hasil pemeriksaan nanti menemukan masalah tertentu, pihak terkait bisa mengambil tindakan sesuai dengan temuan tersebut. Namun, sebelum hasil resmi diumumkan, semua pihak diminta untuk tidak terburu-buru menarik kesimpulan tentang penyebab dugaan keracunan yang dialami santri.
SPPG Penyuplai MBG Mendapat Sanksi
Sebagai bagian dari langkah evaluasi setelah insiden tersebut, Badan Gizi Nasional (BGN) sudah mengambil langkah terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bertanggung jawab menyediakan makanan MBG untuk para santri. SPPG Sidoarjo Tanggulangin Kalitengah dijatuhi sanksi berupa penangguhan berat selama sebulan. Langkah ini diambil sebagai evaluasi setelah adanya kasus dugaan keracunan yang melibatkan beberapa penerima manfaat. Selain itu, BGN juga merekomendasikan agar pemimpin SPPG itu diangkat dan diganti. Keputusan ini merupakan bagian dari proses evaluasi untuk memastikan pelaksanaan program MBG sesuai dengan aturan dan standar yang telah ditetapkan. Namun, tindakan administratif ini tidak langsung menunjukkan bahwa makanan MBG adalah penyebab pasti masalah kesehatan yang dialami para santri.
Penyebab kejadian tersebut masih menunggu hasil dari pemeriksaan laboratorium dan penyelidikan oleh pihak terkait. Proses penyelidikan dilakukan untuk mencari kemungkinan yang bisa menyebabkan munculnya masalah kesehatan secara bersamaan. Pemerintah juga perlu mengevaluasi cara pengolahan, penyimpanan, distribusi, dan penyajian makanan sebelum sampai ke penerima manfaat. Evaluasi menyeluruh diharapkan dapat mencegah terulangnya kejadian serupa di masa depan. Sementara itu, perhatian pada 34 santri Sidoarjo yang masih dalam perawatan tetap menjadi prioritas agar mereka bisa pulih sepenuhnya setelah mengalami masalah kesehatan.
Pemerintah Pantau Pemulihan Para Santri
Pemerintah Kabupaten Sidoarjo terus memantau kondisi kesehatan para santri yang masih mendapatkan perawatan. Situasi 34 santri Sidoarjo yang dirawat di RSI Siti Hajar menjadi salah satu fokus utama karena mereka masih perlu pengawasan tenaga medis. Meskipun kondisi mereka dikabarkan sudah membaik, keputusan mengenai kapan mereka bisa pulang tetap ditentukan oleh tim dokter yang merawat pasien. Para santri diharapkan tidak segera kembali melakukan aktivitas berat sebelum benar-benar pulih. Pemerintah juga memastikan kerjasama dengan pihak rumah sakit berjalan baik selama proses pemulihan. Dengan pemantauan ini, perkembangan kesehatan pasien bisa diketahui secara berkala dan tindakan medis bisa diberikan jika diperlukan. Di sisi lain, santri yang sudah pulang juga diharapkan tetap mendapat perhatian dari keluarga maupun pihak pesantren.
Jika muncul masalah kesehatan lagi, pemeriksaan lebih lanjut bisa dilakukan untuk memastikan tidak ada masalah yang berlanjut. Penanganan kasus ini tidak hanya berkaitan dengan kondisi pasien, tetapi juga berkaitan dengan evaluasi program MBG di lokasi tersebut. Pemerintah perlu memastikan setiap tahap penyediaan makanan mengikuti prosedur untuk menjaga agar program yang bertujuan memenuhi kebutuhan gizi penerima manfaat tetap aman. Hasil penyelidikan nantinya akan menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya. Hingga hasil tersebut diketahui, prioritas pemerintah adalah menjamin para santri mendapatkan pelayanan kesehatan yang cukup dan cepat pulih.
34 Santri Sidoarjo Diharapkan Segera Pulih
Kasus 34 santri di Sidoarjo yang dicurigai mengalami keracunan setelah makan makanan MBG kini masih dalam tahap perawatan dan pemeriksaan. Kesehatan para santri yang masih dirawat dilaporkan semakin membaik, sehingga diharapkan mereka dapat segera keluar dari rumah sakit setelah dokter menyatakan mereka sudah sembuh. Sementara itu, pemeriksaan makanan dan penyelidikan terkait kejadian ini tetap menjadi hal penting untuk menemukan penyebab yang sebenarnya. Pemerintah belum memberikan keputusan akhir sebelum hasil dari pemeriksaan laboratorium keluar. Hal ini penting agar informasi yang disampaikan kepada publik benar-benar didasarkan pada hasil pemeriksaan, bukan hanya asumsi. Kasus ini juga menjadi bahan evaluasi bagi pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis, khususnya terkait dengan keamanan makanan, proses pengolahan, dan distribusi makanan kepada penerima manfaat.
Keamanan makanan menjadi hal yang sangat penting karena program ini menyangkut banyak orang, termasuk anak-anak dan santri. Jika ada kelemahan dalam salah satu tahap penyediaan makanan, maka perlu dilakukan evaluasi dan perbaikan segera untuk mencegah terulangnya masalah serupa. Pemerintah juga diharapkan bisa memberikan informasi terbaru mengenai hasil pemeriksaan dengan transparan setelah proses laboratorium selesai. Dengan cara ini, masyarakat dapat mengetahui fakta yang sebenarnya tentang kejadian yang dialami para santri. Saat ini, kesehatan pasien adalah yang paling utama. 34 santri Sidoarjo yang masih mendapatkan perawatan diharapkan cepat sembuh dan bisa kembali beraktivitas normal setelah dinyatakan aman oleh tim medis.
You may like
-
102 Siswa SMP di Bogor Pulih Usai Dugaan Keracunan MBG, Satu Masih Dirawat
-
Keracunan MBG Batang, BGN Copot Kepala SPPG dan Suspend Dapur
-
Kepala BGN Jelaskan Tunggakan Rp1,6 Triliun Dapur MBG, Pembayaran Menunggu Hasil Audit
-
833 Dapur MBG Ditutup Permanen, Kepala BGN Tegaskan Standar Keamanan Pangan Jadi Prioritas
-
BGN Tegaskan Motor Listrik Dibeli dengan APBN, Bukan Barang Hasil Korupsi
-
Pelibatan Kantin Sekolah dalam Program MBG Jadi Sorotan, Simak Pro dan Kontra yang Muncul
Nasional
102 Siswa SMP di Bogor Pulih Usai Dugaan Keracunan MBG, Satu Masih Dirawat
Published
11 hours agoon
October 22, 2026By
admin lintas
Siswa SMP di Bogor Pulih Usai Dugaan Keracunan MBG
BOGOR – Kasus keracunan MBG Bogor menjadi perhatian setelah 103 siswa SMP Negeri 2 Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, mengalami keluhan kesehatan yang diduga berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Hingga Kamis (22/10/2026), sebanyak 102 siswa dilaporkan telah pulang setelah mendapatkan penanganan medis, sementara satu siswa lainnya masih menjalani perawatan di rumah sakit dengan kondisi yang disebut mulai membaik. Para siswa dilaporkan mengalami gejala seperti pusing, mual, dan sakit perut setelah mengonsumsi makanan serta minuman yang dibagikan melalui program tersebut.
Pemerintah daerah bersama pihak terkait masih menelusuri penyebab kejadian, termasuk memeriksa sampel makanan dan minuman untuk memastikan faktor yang mungkin memicu gangguan kesehatan. Dugaan keterkaitan dengan salah satu menu belum dapat dipastikan sebelum hasil pemeriksaan laboratorium tersedia. Sementara itu, penanganan medis dan pemantauan kondisi para siswa tetap menjadi prioritas agar seluruh pelajar dapat pulih dan kembali beraktivitas seperti biasa.
Dugaan Keracunan MBG di Bogor Dialami 103 Siswa
Kejadian dugaan keracunan MBG di Bogor dilaporkan terjadi di SMP Negeri 2 Cisarua pada Rabu (21/10/2026). Sebanyak 103 siswa mengalami keluhan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan dan perawatan medis. Mereka dirawat di Rumah Sakit Paru Dr. M. Goenawan Partowidigdo (RSPG) Cisarua. Gejala yang dilaporkan termasuk pusing, mual, dan sakit perut setelah siswa mengonsumsi makanan dan minuman dari program MBG. Gejala ini dilaporkan muncul dalam waktu yang singkat setelah makan, sehingga petugas kesehatan perlu menyelidiki potensi penyebabnya. Namun, munculnya keluhan setelah makan tidak langsung berarti bahwa satu jenis makanan tertentu adalah sumber masalah.
Pemeriksaan harus mempertimbangkan berbagai faktor, termasuk kondisi bahan makanan, cara pengolahan, penyimpanan, kebersihan alat, serta waktu distribusi makanan kepada siswa. Petugas medis lebih dulu memberikan penanganan kepada murid yang menunjukkan gejala, sementara instansi terkait mencatat untuk memastikan jumlah siswa yang memerlukan perawatan. Dari total 103 siswa yang melapor mengalami keluhan, 102 siswa sudah diizinkan pulang, sedangkan satu siswa lainnya masih dirawat di rumah sakit. Perbedaan dalam kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemeriksaan setiap pasien berdasarkan tingkat gejala dan pengamatan medis, bukan hanya berdasarkan jumlah orang yang terdampak.
Susu UHT dalam Menu MBG Ikut Diperiksa
Salah satu hal yang menarik perhatian dalam penyelidikan mengenai dugaan keracunan MBG di Bogor adalah susu UHT yang ada dalam menu makanan untuk siswa. Menu yang dilaporkan dimakan oleh pelajar termasuk nasi, telur, sayuran seperti wortel dan jagung, serta susu UHT. Produk susu ini disebut sebagai salah satu kemungkinan yang harus diteliti, tetapi belum bisa dipastikan sebagai penyebab kejadian tersebut. Untuk mendapatkan kesimpulan yang lebih tepat, harus dilakukan pemeriksaan sampel makanan dan minuman di laboratorium. Pengujian ini penting untuk mengetahui apakah ada kontaminasi atau faktor lain yang bisa menjelaskan mengapa keluhan kesehatan muncul secara bersamaan.
Selain bahan makanan, cara penyimpanan dan distribusi juga merupakan hal penting dalam penyelidikan ini. Makanan yang dikemas dengan baik tetap perlu ditangani sesuai dengan aturan penyimpanan dan tanggal kedaluwarsanya. Begitu juga dengan makanan siap saji yang harus dipersiapkan, dikemas, dan didistribusikan dengan menjaga kebersihan dan keamanan. Hasil dari pengujian diharapkan bisa memberikan informasi yang lebih jelas mengenai kemungkinan penyebab kejadian itu. Sampai hasil pemeriksaan diumumkan, masyarakat sebaiknya tidak langsung menyimpulkan bahwa susu UHT atau menu lainnya adalah sumber keracunan. Menetapkan penyebab membutuhkan bukti yang cukup agar langkah selanjutnya bisa dilakukan dengan tepat, termasuk jika ada masalah dengan bahan baku, proses pengolahan, penyimpanan, atau distribusi makanan.
Pemkab Bogor Fokus pada Pemulihan Siswa
Pemerintah Kabupaten Bogor memberi prioritas pada pemulihan kesehatan semua siswa yang mengalami keluhan setelah makan menu MBG. Bupati Bogor Rudy Susmanto memastikan bahwa biaya pengobatan dan perawatan siswa yang terkena dampak akan ditanggung oleh pemerintah daerah. Tujuannya agar para siswa mendapatkan perawatan sesuai kebutuhan tanpa harus menunggu karena masalah biaya. Selama perawatan, kondisi setiap siswa perlu dipantau oleh tenaga medis untuk memastikan apakah mereka sudah cukup stabil untuk pulang. Beberapa pasien yang mengalami keluhan tertentu mungkin memerlukan cairan infus atau tindakan lain berdasarkan pemeriksaan dokter. Setelah kembali ke rumah, siswa tetap memerlukan perhatian dari orang tua dan keluarga. Jika keluhan muncul lagi atau semakin parah, mereka sebaiknya segera dibawa ke fasilitas kesehatan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Pemantauan setelah pasien pulang juga penting untuk memastikan apakah kondisi mereka benar-benar membaik. Di sisi lain, kerjasama antara sekolah, keluarga, fasilitas kesehatan, dan pemerintah daerah sangat diperlukan agar perkembangan kondisi siswa bisa terpantau dengan baik. Penanganan tidak cukup berhenti setelah sebagian besar siswa keluar dari rumah sakit, tetapi juga perlu evaluasi terhadap peristiwa yang terjadi. Pemerintah harus memastikan informasi tentang kondisi korban disampaikan secara jelas supaya keluarga mendapatkan kepastian mengenai tindakan lanjut yang diambil. Dengan demikian, keselamatan siswa tetap menjadi hal yang utama selama proses penyelidikan masih berlangsung.
Operasional SPPG Dihentikan Sementara untuk Evaluasi
Sebagai langkah selanjutnya, aktivitas Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yang bertugas mendistribusikan makanan ke sekolah, dilaporkan dihentikan sementara selama 20 hari. Penghentian ini bagian dari upaya untuk mengevaluasi setelah munculnya dugaan masalah kesehatan yang dirasakan oleh siswa. Selama periode ini, pihak terkait dapat melakukan pemeriksaan terhadap prosedur penyediaan makanan, mulai dari pemilihan bahan, proses memasak, pengemasan, penyimpanan, hingga pengiriman ke sekolah. Setiap langkah harus diperiksa agar dapat memastikan bahwa standar keamanan pangan sudah dilaksanakan secara konsisten. Penelusuran juga perlu meliputi kondisi produk yang disajikan, pencatatan waktu produksi dan distribusi, serta pengelolaan bahan makanan yang mudah rusak.
Evaluasi ini tidak hanya bertujuan untuk menemukan kemungkinan penyebab masalah, tapi juga untuk mengidentifikasi aspek yang perlu diperbaiki agar risiko serupa dapat ditekan. Keputusan untuk menghentikan kegiatan sementara tidak berarti bahwa penyebab masalah sudah pasti berasal dari dapur penyedia makanan. Kesimpulan itu harus tetap berdasarkan pada hasil pemeriksaan dan bukti yang ada. Setelah proses evaluasi selesai, pihak berwenang dapat menentukan langkah-langkah selanjutnya berdasarkan hasil penelusuran. Pengawasan yang baik dan transparan diperlukan agar masyarakat mendapatkan informasi yang bisa dipercaya mengenai keamanan layanan MBG. Sementara itu, setiap penyedia layanan harus memastikan bahwa prosedur kebersihan, pengolahan, penyimpanan, dan distribusi makanan diterapkan dengan baik untuk menjaga kesehatan penerima manfaat, terutama anak sekolah.
Keamanan Pangan Menjadi Perhatian dalam Program MBG
Kejadian yang melibatkan banyak siswa ini kembali menegaskan pentingnya keamanan pangan dalam program Makan Bergizi Gratis. Program pemenuhan gizi untuk pelajar tidak hanya membutuhkan makanan yang bergizi, tetapi juga harus memastikan bahwa makanan itu aman untuk dimakan. Pengawasan perlu dilakukan dari saat bahan makanan diterima hingga makanan disajikan kepada siswa. Kualitas bahan baku harus diperiksa, dan proses pengolahan harus mengikuti standar kebersihan dan prosedur yang ada. Makanan yang sudah matang juga harus disimpan dan dikirim dengan cara yang benar agar kualitasnya tetap terjaga. Selain itu, produk kemasan seperti susu perlu diperiksa stempel, tanggal kedaluwarsa, serta cara penyimpanannya. Pengelola dapur perlu memiliki catatan yang cukup sehingga penelusuran dapat dilakukan jika ada laporan masalah kesehatan.
Sekolah juga perlu memiliki prosedur pelaporan yang jelas jika beberapa siswa mengalami keluhan setelah makan. Tindakan cepat dapat membantu petugas kesehatan mendapatkan informasi tentang waktu makanan, jenis menu, dan gejala yang muncul. Informasi tersebut dapat mendukung proses penyelidikan dan membantu mencegah bertambahnya jumlah orang yang terkena risiko jika masalah masih ada. Evaluasi yang menyeluruh sangat penting agar program MBG dapat berjalan lancar dan mengutamakan keselamatan siswa. Peningkatan pengawasan bukan hanya menjadi tanggung jawab satu pihak, melainkan memerlukan koordinasi antara pengelola layanan, sekolah, tenaga kesehatan, dan pemerintah. Dengan sistem pemantauan yang baik, pelaksanaan program pemenuhan gizi diharapkan dapat berjalan dengan aman, konsisten, dan bertanggung jawab.
Kondisi Terbaru Siswa Korban Keracunan MBG Bogor
Hingga Kamis (22/10/2026), laporan terbaru menunjukkan bahwa 102 siswa dari SMP Negeri 2 Cisarua sudah diizinkan pulang, sedangkan satu siswa masih dirawat di rumah sakit dan kondisinya dikatakan membaik. Siswa tersebut diharapkan bisa segera kembali ke rumah jika hasil pemeriksaan dan penilaian dokter menunjukkan bahwa kondisi kesehatan telah stabil. Meskipun sebagian besar siswa telah kembali, keluarga dan pihak sekolah tetap perlu memperhatikan kesehatan mereka. Jika ada keluhan seperti muntah yang terus-menerus, sakit perut parah, pusing yang berkepanjangan, atau tanda-tanda dehidrasi, sebaiknya segera dilakukan pemeriksaan medis. Sementara itu, penyelidikan mengenai penyebab insiden ini masih menjadi hal penting dalam penanganan kasus ini.
Sampel makanan dan minuman yang dikonsumsi siswa akan diperiksa supaya dugaan awal dapat dibandingkan dengan hasil uji coba. Informasi mengenai kemungkinan keterkaitan dengan susu UHT perlu menunggu bukti yang jelas sebelum dijadikan kesimpulan. Diharapkan pemerintah daerah dan pihak yang terkait memberikan informasi perkembangan pemeriksaan dengan jelas, termasuk hasil laboratorium dan langkah evaluasi terhadapat layanan penyedia makanan. Dengan informasi yang tepat, masyarakat dapat mengikuti perkembangan kasus tanpa terpengaruh informasi yang belum terverifikasi. Fokus utama saat ini adalah memastikan semua siswa sembuh, menyelesaikan pemeriksaan secara menyeluruh, dan memperbaiki prosedur keamanan pangan jika ditemukan ada yang kurang dalam pelaksanaan program MBG.
Evaluasi Menyeluruh Diperlukan agar Kejadian Tidak Terulang
Dugaan keracunan di SMP Negeri 2 Cisarua mengingatkan kita bahwa program makanan untuk siswa memerlukan pengawasan yang terus-menerus. Kebutuhan gizi harus sejalan dengan perlindungan kesehatan bagi penerima manfaat. Oleh karena itu, setiap laporan tentang masalah kesehatan setelah mengonsumsi makanan perlu ditindaklanjuti dengan mendata korban, melakukan pemeriksaan kesehatan, mengamankan sampel, dan menyelidiki proses penyediaan makanan. Hasil pemeriksaan ini bisa membantu menentukan jika insiden tersebut berkaitan dengan bahan makanan tertentu, adanya kontaminasi saat pengolahan, cara penyimpanan yang tidak baik, atau faktor lain yang perlu diteliti lebih lanjut. Jika ditemukan kekurangan, tindakan perbaikan harus diambil sebelum layanan tersebut beroperasi kembali sesuai aturan yang ada.
Pengelola harus memastikan bahwa pekerja memahami prosedur kebersihan dan keamanan pangan, sementara pengawasan dari pihak berwenang harus dilakukan secara berkala. Sekolah dan orang tua juga bisa berkontribusi dengan melaporkan gejala yang muncul dan memberikan informasi yang dibutuhkan tenaga kesehatan. Di sisi lain, masyarakat perlu menunggu hasil penyelidikan sebelum menarik kesimpulan tentang penyebab kejadian tersebut. Hingga laporan terakhir, sebanyak 102 siswa sudah pulang dan satu siswa masih dirawat dengan kondisi yang membaik. Penyebab pasti dari kejadian tersebut belum dapat dipastikan hanya berdasarkan gejala yang muncul setelah mengonsumsi makanan. Hasil laboratorium dan evaluasi dari pihak berwenang akan menjadi hal penting untuk menentukan langkah selanjutnya. Dengan penanganan yang menyeluruh, diharapkan seluruh siswa dapat sembuh dan program MBG dapat terus dievaluasi untuk menjaga keamanan dan kepercayaan masyarakat.
Nasional
Greenpeace Bentangkan Spanduk Raksasa di Bundaran HI, Soroti Krisis Iklim
Published
1 day agoon
October 21, 2026By
admin lintas
Greenpeace Bundaran HI Menyampaikan Kritik kepada Pemerintah
JAKARTA – Greenpeace Bundaran HI menarik perhatian masyarakat setelah enam anggota Greenpeace Indonesia menggelar spanduk besar di Monumen Selamat Datang, di kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada hari Selasa (20/10/2026). Aksi ini dilakukan untuk mendorong pemerintah agar lebih serius dalam menghadapi masalah krisis iklim yang dinilai berdampak langsung bagi kehidupan warga, termasuk bertambahnya beban ekonomi dan biaya hidup.
Aksi dimulai sejak pagi dengan melibatkan enam aktivis yang terdiri dari empat pria dan dua wanita. Mereka mengibarkan spanduk berwarna kuning dari atas monumen yang menjadi simbol Ibu Kota. Pesan yang disampaikan menggambarkan hubungan antara kerusakan lingkungan, bencana ekologis, dan kesulitan ekonomi yang dialami masyarakat.
Pesan Spanduk Greenpeace di Bundaran HI
Dua pesan utama termasuk dalam aksi itu. Spanduk pertama bertuliskan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup” dan menghadap ke utara, menuju Istana Merdeka. Sementara itu, spanduk kedua berisi tulisan “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah? ” yang merupakan bentuk kritik terhadap cara pemerintah menangani masalah lingkungan dan dampaknya bagi kesejahteraan masyarakat.
Juru Kampanye Keadilan Iklim Greenpeace Indonesia, Jeanny Sirait, menjelaskan bahwa cuaca ekstrem dan bencana ekologis mengancam keselamatan dan kesehatan masyarakat. Situasi tersebut juga dapat mengganggu pekerjaan, menekan pendapatan, serta meningkatkan harga pangan. Greenpeace berpendapat bahwa kelompok masyarakat yang ekonominya rentan adalah yang paling terkena dampak dari krisis ini.
Enam Aktivis Greenpeace Dievakuasi Polisi
Tim gabungan dari kepolisian, TNI, pemadam kebakaran, dan Satpol PP hadir di lokasi untuk menjaga keamanan serta membantu evakuasi. Setelah bertahan di atas monumen selama beberapa jam, keenam aktivis akhirnya berhasil diturunkan dengan alat evakuasi.
Kapolres Metro Jakarta Pusat Kombes Pol. Reynold E. P. Hutagalung melaporkan bahwa salah satu aktivis wanita tampak lemas ketika diturunkan dari monumen. Aktivis tersebut kemudian dibawa dengan ambulans untuk mendapatkan perawatan medis di Klinik Biddokkes Polda Metro Jaya. Semua aktivis berhasil dievakuasi.
Respons Aparat terhadap Aksi Greenpeace
Petugas mengingatkan bahwa penyampaian pendapat di depan umum harus memperhatikan keselamatan semua pihak dan melindungi fasilitas publik. Bundaran HI juga merupakan tempat yang memiliki nilai sejarah dan status cagar budaya, sehingga penggunaan monumen untuk aksi mendapat perhatian khusus.
Namun, pihak kepolisian menekankan pentingnya memberikan perlindungan kepada masyarakat yang ingin menyampaikan pendapat. pemerintah juga dihadapkan pada tuntutan untuk merespons masalah lingkungan dengan serius, terutama ketika dampaknya berkenaan dengan keselamatan warga, ketahanan pangan, dan kondisi ekonomi rumah tangga.
Aksi Greenpeace Ramai Dibicarakan di Media Sosial
Dokumentasi aksi Greenpeace Indonesia menyebar luas di berbagai platform media sosial, seperti X, Instagram, TikTok, dan WhatsApp. Foto-foto spanduk kuning yang dijulangkan di atas Monumen Selamat Datang menarik perhatian netizen dan memicu perbincangan mengenai tujuan aksi serta isu krisis iklim di Indonesia.
Perhatian publik bahkan meluas ke Google Maps, ketika beberapa pengguna mengunggah foto aksi tersebut di halaman ulasan lokasi Bundaran HI. Kejadian ini mencerminkan bagaimana aksi lingkungan di tempat umum dapat menjadi perbincangan yang meluas melalui berbagai saluran digital.
Greenpeace Desak Penanganan Krisis Iklim Lebih Serius
Aksi ini terjadi bersamaan dengan dua tahun kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Momentum ini dimanfaatkan oleh Greenpeace Indonesia untuk kembali menekankan pentingnya kebijakan yang dapat menangani krisis iklim serta mengurangi pengaruhnya terhadap masyarakat.
Greenpeace menyoroti bahwa mengatasi krisis iklim tidak hanya harus berfokus pada isu lingkungan, tetapi juga harus memperhatikan dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. Bencana alam, cuaca yang ekstrem, dan gangguan dalam produksi pangan dapat menambah beban ekonomi, khususnya bagi masyarakat dengan pendapatan rendah.
Kejadian di Bundaran HI ini kembali menempatkan masalah perubahan iklim sebagai topik penting dalam diskusi publik. Permintaan yang diajukan oleh Greenpeace menjadi pengingat bahwa upaya menjaga lingkungan harus sejalan dengan perlindungan masyarakat dari bencana dan naiknya biaya hidup.
Nasional
Sungai Cileungsi Bogor Menghitam Bak Oli, Bau Menyengat
Published
2 days agoon
October 20, 2026By
admin lintas
Air Sungai Cileungsi Bogor Kembali Menghitam, Warga Khawatir Pencemaran
JAKARTA – Sungai Cileungsi di Bogor kembali menarik perhatian setelah airnya berubah menjadi gelap seperti minyak dan mengeluarkan bau menyengat pada hari Minggu, 18 Oktober 2026. Perubahan ini terlihat dalam video yang beredar di media sosial dan menyebabkan kekhawatiran masyarakat tentang kemungkinan pencemaran lingkungan. Situasi ini kembali mengangkat isu kualitas air sungai yang dalam beberapa bulan terakhir telah menjadi perhatian pemerintah dan penduduk setempat. Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Bogor, Teuku Mulya, mengungkapkan bahwa pihaknya akan melakukan pengecekan setelah mendapatkan informasi mengenai kondisi tersebut.
Pemeriksaan dibutuhkan untuk mengetahui keadaan terkini dan mencari sumber pencemaran yang mungkin ada. Perubahan warna air yang sangat gelap serta bau tak sedap menandakan perlunya tindak lanjut melalui pemeriksaan lapangan. Namun, hanya berdasarkan warna dan bau saja belum cukup untuk menentukan jenis zat yang mencemari air. Hasil uji laboratorium dibutuhkan untuk memastikan kondisi kualitas air serta mengetahui apakah terdapat zat berbahaya. Penanganan yang tepat memerlukan kerjasama antara pemerintah daerah, petugas pengawas lingkungan, dan pihak terkait di sepanjang aliran sungai. Masyarakat berharap pemeriksaan dapat dilakukan secara menyeluruh, sehingga penyebab perubahan kondisi Sungai Cileungsi bisa diketahui dan langkah penanganan dapat segera diambil.
Air Sungai Cileungsi Gelap dan Berbau Tidak Sedap
Perubahan warna air Sungai Cileungsi menjadi gelap kembali menimbulkan kekhawatiran tentang kondisi lingkungan di Kabupaten Bogor. Berdasarkan rekaman yang tersebar pada 18 Oktober 2026, aliran sungai terlihat mengalami perubahan warna yang mencolok jika dibandingkan dengan kondisi air biasanya. Selain warna yang gelap, ada pula laporan tentang bau tidak sedap yang menyertai aliran sungai tersebut. Informasi dari masyarakat dan pengamat lingkungan menyebut bahwa perubahan mulai tampak pada pagi hari, sekitar pukul 09. 30 WIB. Dilaporkan bahwa kondisi air masih berwarna hitam hingga sore hari. Lokasi yang disebut dalam laporan ini mencakup area Bojongkulur dan Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.
Perubahan ini menjadi sorotan, karena terjadi setelah kondisi sungai sebelumnya dilaporkan masih terlihat normal pada sore hari sebelumnya. Selain itu, ada laporan tentang ikan yang diduga mengalami masalah dan terdampar di sekitar aliran sungai. Informasi ini tetap memerlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan hubungannya dengan kualitas air. Perubahan warna yang cepat dapat memiliki berbagai penyebab, jadi tidak tepat jika langsung disimpulkan berasal dari satu sumber tertentu. Pemeriksaan pada titik hulu, saluran pembuangan, keadaan aliran, dan sampel air diperlukan untuk mendapatkan gambaran yang lebih lengkap. Dengan demikian, penanganan tidak hanya berfokus pada perubahan warna yang terlihat, tetapi juga pada penyebab yang mungkin membuat masalah lingkungan menjadi berulang.
DLH Kabupaten Bogor Selidiki Dugaan Pencemaran
Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor diharapkan bisa menemukan penyebab perubahan warna air di Sungai Cileungsi. Kepala DLH Kabupaten Bogor, Teuku Mulya, menjelaskan bahwa mereka belum mendapatkan informasi awal tentang kejadian terbaru saat dikonfirmasi pada hari Minggu, 18 Oktober 2026. Dia menyatakan akan segera memeriksa keadaan di lapangan. Pernyataan ini menunjukkan bahwa penyebab dari kejadian terbaru belum bisa dipastikan ketika informasi awal diberikan. Pemeriksaan di lapangan sangat penting untuk melihat apakah perubahan warna air disebabkan oleh limbah, endapan yang terbawa oleh aliran, atau faktor lain yang dapat mempengaruhi kualitas air. Petugas perlu memeriksa beberapa titik yang berpotensi sebagai jalur masuknya material ke sungai.
Jika ada tanda-tanda pencemaran, pengambilan sampel air harus dilakukan sesuai prosedur agar hasilnya bisa digunakan untuk menentukan langkah berikutnya. Pemeriksaan di laboratorium akan membantu mengetahui karakteristik bahan yang ada dalam air dan mengevaluasi kesesuaiannya dengan standar mutu lingkungan. Hasil pemeriksaan ini juga penting untuk memutuskan apakah diperlukan tindakan hukum terhadap pihak yang terbukti bersalah. Sampai penyelidikan memberikan temuan yang jelas, belum tepat untuk menyalahkan perusahaan atau pihak tertentu sebagai penyebab kejadian di bulan Oktober. Masyarakat memerlukan informasi yang jelas mengenai hasil pemeriksaan, langkah-langkah pemulihan, dan tindakan pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang.
Pencemaran Sungai Cileungsi Berulang Kali Menjadi Sorotan
Masalah kualitas air di Sungai Cileungsi telah beberapa kali menjadi perhatian di tahun 2026. Pada bulan September, aliran sungai di Kabupaten Bogor kembali dilaporkan berwarna hitam dan berbau tidak sedap. Keadaan ini semakin menambah kekhawatiran warga tentang kemungkinan masalah pengelolaan limbah di dekat kawasan industri yang bersebelahan dengan sungai. Pada 19 September 2026, Pemerintah Kabupaten Bogor melakukan penelusuran bersama berbagai pihak untuk memeriksa tempat pembuangan limbah. Dalam kegiatan itu, pemerintah mengungkapkan bahwa dari sekitar 176 perusahaan yang diperiksa, 23 perusahaan terindikasi tidak mematuhi pengelolaan air limbah dan diminta untuk memperbaiki keadaan. Temuan ini bagian dari usaha pengawasan terhadap aktivitas bisnis di sekitar daerah aliran sungai.
Namun, status perusahaan yang terindikasi tidak melakukan pengelolaan yang benar tidak boleh disamakan dengan kesimpulan bahwa semua perusahaan itu menyebabkan perubahan warna air pada 18 Oktober. Menetapkan sumber pencemaran memerlukan pemeriksaan terhadap bukti di lapangan, jalur pembuangan, dan hasil pengujian yang relevan. Riwayat kejadian sebelumnya tetap penting sebagai dasar untuk menetapkan titik-titik yang perlu diawasi lebih ketat. Pemerintah juga harus memastikan bahwa tindakan lanjut dari pemeriksaan yang lalu dilaksanakan dengan baik, termasuk perbaikan sistem pengolahan limbah dan pemantauan rutin. Dengan cara ini, penanganan pencemaran dapat dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika air sungai kembali berwarna hitam dan menarik perhatian masyarakat..
Dugaan Limbah Industri Menjadi Fokus Pengawasan
Kegiatan industri di sekitar aliran Sungai Cileungsi telah jadi sorotan dalam usaha meneliti kemungkinan sumber pencemaran. Pada 18 Agustus 2026, Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup menghentikan pembuangan limbah di empat lokasi usaha yang dianggap membuang langsung ke badan air tanpa melakukan pengolahan sesuai aturan. Keempat lokasi tersebut dicatat dengan inisial TL, KL, KIL, dan DL. Tindakan ini merupakan bagian dari penegakan hukum untuk mendeteksi pelanggaran dalam pengelolaan limbah di sepanjang daerah aliran sungai. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya pengawasan terhadap saluran pembuangan yang mengarah ke sungai, terutama di area dengan banyak aktivitas usaha. Limbah dari industri harus dikelola melalui instalasi pengolahan yang sesuai sebelum dibuang ke lingkungan.
Apabila pengelolaan tidak memenuhi standar, kualitas air yang menerima limbah berisiko berubah dan dapat berdampak pada ekosistem. Namun, langkah yang diambil terhadap empat lokasi usaha pada Agustus tidak secara otomatis menunjukkan bahwa tempat tersebut adalah sumber pencemaran terbaru di bulan Oktober. Hubungan antara suatu usaha dan pencemaran tertentu perlu dibuktikan dengan pemeriksaan yang pantas. Petugas harus mengikuti aliran pembuangan, mengecek dokumen pengelolaan lingkungan, dan menganalisis sampel air jika ada indikasi pelanggaran. Tindakan ini penting agar penanganan dilakukan berdasarkan bukti dan orang yang benar-benar melanggar dapat dimintai pertanggungjawaban sesuai hukum yang berlaku.
Pemerintah Perkuat Pengawasan Saluran Pembuangan
Pemerintah Kabupaten Bogor telah mengambil langkah untuk mengawasi titik-titik pembuangan limbah di sepanjang Sungai Cileungsi. Dalam kegiatan pemantauan di bulan September 2026, Bupati Bogor Rudy Susmanto bersama DLH dan pihak terkait meninjau beberapa lokasi yang dianggap perlu perhatian. Pengawasan ini juga melibatkan kelompok pecinta lingkungan yang mengikuti perubahan kondisi sungai. Salah satu tindakan yang dilakukan adalah menugaskan petugas untuk memantau titik-titik keluaran saluran pembuangan serta mengambil sampel air oleh petugas yang berwenang dan berkualitas. Pemantauan seperti ini diperlukan untuk mengetahui perubahan pada kualitas air sekaligus mencari sumber potensi pencemaran. Namun, pengawasan tidak cukup jika hanya dilakukan sekali.
Pemantauan secara rutin diperlukan untuk memastikan saluran pembuangan tidak kembali dipakai untuk membuang limbah yang tidak sesuai aturan. Pemerintah juga harus menindaklanjuti hasil pengujian dengan langkah tepat. Seperti meminta perbaikan pada sistem pengolahan limbah, melakukan pemeriksaan ulang, dan memberikan sanksi jika terjadi pelanggaran. Di sisi lain, perusahaan memiliki tanggung jawab untuk memastikan semua proses pengelolaan limbah dilakukan sesuai dengan ketentuan lingkungan. Keterbukaan informasi mengenai hasil pengawasan dapat membantu masyarakat memahami perkembangan penanganan pencemaran. Dengan adanya koordinasi yang terus-menerus, pemerintah diharapkan dapat mengurangi risiko pencemaran ulang dan menjaga kualitas air Sungai Cileungsi dalam jangka panjang.
Dampak Air Sungai Tercemar terhadap Lingkungan
Air sungai yang berubah warna menjadi hitam dan mengeluarkan bau kuat bisa menyebabkan kekhawatiran tentang kesehatan lingkungan dan masyarakat yang tinggal di sekelilingnya. Perubahan ini bisa menunjukkan adanya masalah pada kualitas air, tetapi tingkat pencemaran tidak bisa diketahui hanya dengan melihat atau mencium. Jenis bahan yang masuk ke sungai, konsentrasi, dan lama paparan menjadi faktor penting untuk menilai dampaknya. Jika pencemaran mengakibatkan kualitas air menurun atau berkurangnya oksigen terlarut, hewan liar seperti ikan bisa terganggu. Ada laporan tentang ikan yang diduga mengalami keracunan dan terdampar di sekitar Sungai Cileungsi, yang perlu diselidiki untuk mengetahui penyebab pastinya. Pengujian sampel air bisa membantu mengukur berbagai parameter kualitas air dan menemukan kemungkinan zat pencemar.
Memeriksa kondisi biota bisa memberikan informasi tambahan tentang dampak lingkungan yang terjadi. Untuk masyarakat, langkah bijak adalah menghindari kontak langsung dengan air yang dicurigai tercemar, tidak menggunakannya untuk konsumsi atau kebutuhan rumah tangga, serta menjaga anak-anak agar tidak mendekati aliran air sampai kondisi dinyatakan aman oleh pihak berwenang. Jika ada penemuan ikan mati atau perubahan mencurigakan, masyarakat dapat melaporkannya ke instansi lingkungan setempat dengan menyertakan informasi lokasi dan waktu kejadian. Penanganan yang tepat perlu didasarkan pada hasil pemeriksaan. Agar perlindungan terhadap masyarakat dan ekosistem bisa dilakukan dengan efektif tanpa menyebarkan kesimpulan yang belum terbukti.
Penanganan Sungai Cileungsi Menunggu Hasil Pemeriksaan
Keadaan Sungai Cileungsi yang kembali menghitam pada bulan Oktober 2026 menunjukkan betapa pentingnya penanganan pencemaran secara menyeluruh dan berkelanjutan. Pemerintah harus memastikan bahwa pemeriksaan lapangan dilaksanakan, mencari sumber potensi pencemaran, dan menggunakan hasil pengujian kualitas air sebagai dasar untuk menentukan langkah selanjutnya. Jika ditemukan pembuangan limbah yang melanggar aturan, tindakan hukum harus diambil sesuai dengan bukti dan tingkat pelanggarannya. Sementara itu, lokasi yang sebelumnya telah diawasi terus di pantau untuk memastikan perbaikan telah dilaksanakan. Pemulihan sungai tidak hanya tentang menghentikan pencemaran, tetapi juga perlu evaluasi kondisi air setelah perbaikan dilakukan.
Hasil pemantauan secara berkala dapat menunjukkan apakah kualitas air membaik atau masih ada sumber pencemaran yang belum teridentifikasi. Masyarakat memiliki peran penting untuk melaporkan jika mereka menemukan perubahan warna air, bau aneh, ikan mati, atau aktivitas pembuangan limbah yang mencurigakan. Laporan tersebut sebaiknya dilengkapi dengan waktu dan lokasi yang jelas agar dapat ditindaklanjuti oleh petugas. Namun, informasi di media sosial perlu diverifikasi sebelum dijadikan dasar untuk menuduh pihak tertentu. Sampai pemeriksaan pada kejadian 18 Oktober 2026 memberikan hasil yang jelas, penyebab pasti perubahan warna air Sungai Cileungsi dan pihak yang bertanggung jawab belum bisa dipastikan. Keterbukaan hasil pemeriksaan, pengawasan yang konsisten, dan penegakan hukum adalah langkah penting untuk melindungi lingkungan sekaligus memulihkan kepercayaan masyarakat terhadap upaya penanganan pencemaran sungai.
MU Tumbang 1-4 dari Como, Catatan Tanpa Kemenangan Tembus Tujuh Laga
102 Siswa SMP di Bogor Pulih Usai Dugaan Keracunan MBG, Satu Masih Dirawat
Nail Art 2D Outline, Tren Desain Kuku Minimalis yang Unik dan Stylish
Emas Perdana Panjat Tebing Indonesia Ukir Rekor Dunia di Asian Beach Games 2026
Lagu Justin Bieber Viral Lagi Usai Coachella 2026
10 Film Action Netflix Terbaik 2026 yang Bikin Adrenalin Meledak
Trending
-
Olahraga6 months agoEmas Perdana Panjat Tebing Indonesia Ukir Rekor Dunia di Asian Beach Games 2026
-
Entertainment6 months agoLagu Justin Bieber Viral Lagi Usai Coachella 2026
-
Entertainment6 months ago10 Film Action Netflix Terbaik 2026 yang Bikin Adrenalin Meledak
-
Entertainment6 months agoLagu Kicau Mania NDX: Sound Trend yang Viral
-
Olahraga6 months agoTransfer Rashford Buntu, MU Tolak Skema Barcelona
-
Nasional6 months agoPutusan MK 2026: Tafsir Kerugian Negara Kini Lebih Tegas
-
Teknologi6 months agoWhatsApp Plus Berbayar 2026 Hadir dengan Fitur Premium
-
Teknologi6 months agoAplikasi Tring Pegadaian Raih Penghargaan Nasional 2026
