Connect with us

Entertainment

Sinopsis Backrooms: Teror Labirin Kuning Tanpa Batas dari Fenomena Viral

Published

on

Sinopsis Backrooms: Teror Labirin Kuning Tanpa Batas dari Fenomena Viral

Sinopsis Backrooms: Teror Labirin Kuning Tanpa Batas dari Fenomena Viral

Sinopsis Backrooms membawa penonton masuk ke dunia horor yang lahir dari fenomena viral internet. Ceritanya berpusat pada sebuah ruang misterius yang tampak biasa, tetapi menyimpan teror tanpa ujung. A24 merilis Backrooms pada 29 Mei 2026, dengan Kane Parsons sebagai sutradara dan Chiwetel Ejiofor serta Renate Reinsve sebagai pemeran utama.

Film ini dimulai ketika sebuah pintu aneh muncul di ruang bawah tanah showroom furnitur. Pintu itu tidak hanya mengarah ke ruangan lain, tetapi membuka jalan menuju dimensi di luar realitas. Dari sana, karakter utama terseret ke dalam labirin kuning luas yang seolah tidak memiliki batas.

Teror Labirin Kuning yang Membuat Gelisah

Backrooms dikenal sebagai ruang kosong berwarna kuning dengan cahaya lampu neon yang berdengung tanpa henti. Dindingnya tampak monoton, karpetnya kusam, dan lorongnya terasa terus berulang. Suasana itu membuat tempat ini terlihat seperti kantor lama, gudang kosong, atau ruangan publik yang pernah kita lihat tetapi sulit dikenali.

Teror utama film ini tidak hanya datang dari sosok menyeramkan. Rasa takut muncul dari kesunyian, pengulangan ruang, dan perasaan tersesat. Penonton diajak merasakan kecemasan ketika setiap belokan terlihat sama, sementara jalan keluar tidak pernah benar-benar terlihat.

Dalam mitologi Backrooms, seseorang bisa “no-clip” keluar dari dunia nyata. Artinya, ia seolah menembus celah realitas dan jatuh ke tempat yang tidak seharusnya ada. Konsep ini membuat Backrooms terasa seperti mimpi buruk digital yang berubah menjadi ruang fisik.

Dari Fenomena Viral Internet ke Film Horor

Backrooms pertama kali populer sebagai legenda urban internet atau creepypasta. Konsepnya bermula dari gambar ruangan kosong bernuansa kuning yang beredar pada 2019. Gambar itu kemudian berkembang menjadi cerita kolektif tentang dimensi aneh, level berbeda, dan entitas misterius.

Kane Parsons ikut memperluas popularitas Backrooms melalui video YouTube bergaya found footage pada 2022. Video itu viral karena terasa seperti rekaman dokumenter yang tidak sengaja menemukan rahasia mengerikan. A24 kemudian mengembangkan konsep tersebut menjadi film panjang.

Horor Psikologis dengan Nuansa Liminal Space

Daya tarik Backrooms berasal dari konsep liminal space. Istilah ini merujuk pada ruang transisi yang terasa familier, tetapi kosong dan janggal. Contohnya seperti koridor hotel sepi, mal kosong, ruang tunggu lama, atau kantor yang ditinggalkan.

Film ini memanfaatkan rasa tidak nyaman tersebut sebagai sumber ketegangan. Penonton tidak langsung diserang dengan horor brutal. Sebaliknya, film membangun ketakutan melalui atmosfer, suara lampu, lorong kosong, dan perasaan bahwa ada sesuatu yang mengawasi dari kejauhan.

Karena itu, Backrooms cocok untuk penonton yang menyukai horor atmosferik. Film ini tidak hanya menawarkan kejutan, tetapi juga pengalaman tersesat dalam dunia yang terasa salah sejak awal.

Kesimpulan

Sinopsis Backrooms menggambarkan kisah horor tentang manusia yang terjebak di dimensi labirin kuning tanpa batas. Film ini mengubah fenomena viral internet menjadi teror psikologis yang penuh rasa asing, sunyi, dan menekan.

Backrooms bukan sekadar tempat menyeramkan. Ia menjadi simbol ketakutan modern tentang kehilangan arah, terjebak dalam ruang kosong, dan tidak lagi mampu membedakan dunia nyata dari mimpi buruk.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Entertainment

“Monster Pabrik Rambut”, Horor Sejati Itu Penundukan Manusia

Published

on

“Monster Pabrik Rambut”, Horor Sejati Itu Penundukan Manusia

“Monster Pabrik Rambut”, Horor Sejati Itu Penundukan Manusia

Monster Pabrik Rambut muncul sebagai film horor Indonesia yang tidak hanya menawarkan penakut seperti hantu, kutukan, atau adegan mengejutkan. Karya sutradara Edwin ini membawa penonton ke area yang lebih familiar, yaitu lingkungan kerja. Di tempat ini, ketakutan tidak hanya berasal dari makhluk halus, tetapi juga dari sistem yang menekan tubuh, waktu, dan kesadaran individu. Film ini ditayangkan di bioskop Indonesia mulai 4 Juni 2026 dan diproduksi oleh Palari Films. Film yang juga dikenal dengan judul internasional Sleep No More ini ditulis oleh Edwin bersama Eka Kurniawan dan Daishi Matsunaga. Kehadiran Eka Kurniawan memberikan kedalaman pada cerita karena menggabungkan elemen realisme sosial, elemen gelap, dan simbol-simbol tubuh yang tidak nyaman. Menurut ANTARA, film ini mengalihkan sumber ketakutan dari dunia supernatural ke kapitalisme dan eksploitasi pekerja.

Horor Sejati Ada di Pabrik

Cerita Monster Pabrik Rambut mengikuti kehidupan Putri dan Ida, dua saudara perempuan yang bekerja di pabrik rambut PT Raga Abadi. Mereka terjebak dalam kondisi kerja yang tidak sehat setelah mewarisi utang dari ibu mereka yang telah meninggal. Utang tersebut membuat mereka kesulitan untuk keluar dari siklus kerja yang menindas. Di sinilah film ini terasa sangat mengganggu. Pabrik bukan sekadar lokasi cerita, tetapi menjadi mesin besar yang perlahan-lahan menghabiskan jiwa manusia. Para pekerja kehilangan waktu tidur, kehilangan kontrol atas tubuh, dan kehilangan kesempatan untuk menjalani hidup sebagai manusia utuh. Kengerian sejati bukan hanya monster yang mengincar, melainkan sistem yang membuat setiap orang merasa tidak memiliki pilihan selain patuh.

Penundukan Manusia Jadi Sumber Ketakutan

Pernyataan bahwa “horor sejati itu penundukan manusia” mungkin menggambarkan film ini dengan baik. Penundukan dalam Monster Pabrik Rambut tidak selalu dihadirkan melalui kekerasan yang jelas. Itu muncul lewat hutang, waktu kerja yang panjang, lembur tanpa henti, tekanan produksi, dan penerimaan penderitaan sebagai hal yang biasa. Sutradara Edwin menggambarkan sosok monster dalam film ini sebagai simbol dari kapitalisme yang jahat. Menurutnya, monster tersebut mewakili sistem yang mengeksploitasi serta menciptakan normalisasi terhadap eksploitasi itu. Pernyataan ini menjadikan film ini lebih dari sekadar hiburan horror. Film ini juga menjadi kritik sosial terhadap kultur kerja yang sering dianggap normal, padahal menghancurkan fisik dan mental manusia.

Putri, Ida, dan Bona sebagai Korban Sistem di Film “Monster Pabrik Rambut”

Rachel Amanda memainkan peran Putri, sedangkan Lutesha berperan sebagai Ida. Mereka menjadi representasi pekerja yang berjuang dalam kondisi sulit. Mereka tidak hanya berhadapan dengan misteri kematian ibu mereka, tetapi juga dengan struktur kerja yang menjadikan hidup mereka terasa seperti jeratan. Iqbaal Ramadhan memerankan Bona, adik bungsu mereka. Karakter Bona memiliki kemampuan untuk meregenerasi tubuh, yakni bisa menumbuhkan kembali bagian tubuh yang rusak atau hilang. Menurut ANTARA, Bona menjadi salah satu simbol paling jelas mengenai eksploitasi pekerja dalam sistem kapitalis yang diangkat dalam film ini. Bona ibarat tubuh pekerja yang terus dipakai, rusak, dan dipaksa sembuh agar bisa dipakai lagi. Ini bukan hanya fantasi tubuh yang menyeramkan. Ini adalah perumpamaan tentang tenaga kerja yang dianggap bisa diganti, diperbaiki, dan dimanfaatkan tanpa henti.

Horor Tanpa Setan, Tapi Tetap Mencekam

Menariknya, Edwin pernah menyebut film ini sebagai horor yang tidak harus berhubungan dengan setan. Menurutnya, kengerian bisa muncul dari situasi kerja sehari-hari yang sebenarnya sangat dekat dengan banyak orang.
Pendekatan ini menjadikan Monster Pabrik Rambut tampak berbeda dari kebanyakan film horor Indonesia.
Ketakutan tidak hanya berasal dari bayangan gelap atau suara aneh. Ketakutan muncul dari kebiasaan sehari-hari, kelelahan tubuh, mata yang kurang tidur, dan tempat kerja yang dirasa seperti penjara. Dengan cara ini, film ini menunjukkan bahwa horor sosial bisa lebih menggigit. Penonton tidak hanya takut kepada makhluk di layar, tetapi juga bahwa situasi serupa bisa terasa dekat dengan kenyataan.

Kekurangan Tidur Jadi Ketakutan

Salah satu ide utama dalam film ini adalah kelelahan. Dalam ulasan Gramedia, Monster Pabrik Rambut digambarkan sebagai kisah tentang pekerja pabrik yang hidup dalam ritme lembur yang tiada henti. Tidur menjadi sesuatu yang langka, sementara tubuh terus dipaksa untuk bekerja. Kelelahan membuat seseorang jadi lemah. Ketika kurang tidur, tubuh menjadi lemah dan pikiran kehilangan kontrol. Dalam film ini, kondisi tersebut membuka jalan bagi teror. Namun, teror ini tak bisa dipisahkan dari akar sosialnya, yaitu sistem kerja yang memaksa manusia melewati batas. Film ini seolah bertanya kepada penonton: apakah yang menakutkan adalah makhluk gelap di pabrik, atau dunia kerja yang membuat manusia terlalu lelah untuk melawan?

Kritik terhadap Budaya Kerja Berlebihan

Monster Pabrik Rambut juga relevan dalam diskusi tentang budaya kerja yang berlebihan. Banyak orang mengenal istilah lembur, target, produktivitas, dan loyalitas. Namun, film ini menunjukkan sisi kelam dari semua istilah itu ketika dijadikan alasan untuk penindasan. banyak sumber  menyebut film ini menyajikan teror industri tanpa kehadiran hantu atau jumpscare, serta menampilkan suasana pabrik yang mengerikan dan pesan tentang budaya kerja yang terlalu keras. Oleh karena itu, film ini terasa sangat dekat dengan generasi sekarang. Banyak pekerja hidup di bawah tekanan untuk selalu produktif, siap, dan terus mengorbankan waktu pribadi. Monster Pabrik Rambut mengubah rasa cemas ini menjadi kengerian yang nyata.

Efek Praktis Membuat Tubuh Terasa Nyata

Film ini juga menarik karena tidak sepenuhnya mengandalkan efek digital. Edwin memilih menggunakan efek praktis untuk menampilkan kengerian tubuh dengan lebih nyata. Pendekatan ini terlihat khususnya pada karakter Bona dan elemen tubuh yang rusak, tumbuh, atau diperlakukan seperti barang. Pemilihan efek praktis membuat horor terasa lebih kasar dan lebih dekat. Tubuh tidak muncul sebagai gambar digital yang jauh, tetapi sebagai sesuatu yang rapuh, berdarah, dan dapat dieksploitasi. Hal ini memperkuat pesan film bahwa tubuh pekerja bukanlah mesin.

“Monster Pabrik Rambut”, Horor Sejati Itu Penundukan Manusia

Monster Pabrik Rambut adalah horor mengenai manusia yang dijajah oleh sistem. Film ini tidak hanya bertanya siapa monsternya, tetapi juga menunjukkan bagaimana monster bisa muncul dari pabrik, utang, lembur, kelelahan, dan eksploitasi. Kengerian sejati dalam film ini bukan sekadar makhluk menakutkan. Kengerian yang sebenarnya adalah saat manusia kehilangan hak atas tubuhnya sendiri. Melalui kisah Putri, Ida, dan Bona, film ini mengingatkan bahwa tempat kerja bisa berubah menjadi ruang paling menakutkan ketika manusia hanya dianggap sebagai alat produksi.

Continue Reading

Entertainment

Artis Indonesia yang Pernah Kena Cancel Culture, dari Boikot Netizen hingga Kontroversi Publik

Published

on

Artis Indonesia yang Pernah Kena Cancel Culture

Artis Indonesia yang Pernah Kena Cancel Culture, dari Boikot Netizen hingga Kontroversi Publik

Artis Indonesia yang Pernah kena cancel culture sering menjadi pembahasan panas di media sosial. Fenomena ini muncul ketika publik ramai-ramai mengkritik, memboikot, atau berhenti mendukung seorang figur publik karena kontroversi tertentu. Di Indonesia, cancel culture biasanya terjadi setelah artis terseret kasus hukum, dugaan perilaku tidak etis, konten yang dianggap tidak sensitif, hingga sikap politik yang memancing reaksi warganet. Cancel culture bisa berdampak besar bagi karier seorang artis. Dampaknya bisa berupa kehilangan simpati publik, diserang komentar negatif, ditinggalkan penggemar, hingga kehilangan panggung di media. Namun, fenomena ini juga perlu dilihat secara hati-hati. Tidak semua tuduhan langsung terbukti benar, dan tidak semua kritik publik selalu berjalan adil.

1. Saipul Jamil Menjadi Artis Indonesia Pertama yang Pernah Kena Cancel Culture Karna Kelakuannya

Saipul Jamil menjadi salah satu contoh yang sering dibicarakan terkait budaya penghapusan di Indonesia. Setelah ia keluar dari penjara, kemunculannya lagi di TV mendapatkan banyak kritik. Banyak orang berpendapat bahwa penyambutan media terhadapnya terlalu berlebihan, sehingga muncul petisi dan permintaan agar stasiun TV tidak memberikan kesempatan kepada orang yang memiliki riwayat kasus kekerasan seksual. Berita juga menggunakan kasus Saipul Jamil sebagai contoh dalam pembahasan budaya penghapusan di tanah air.

2. Gofar Hilman 

Gofar Hilman mengalami budaya penghapusan setelah ada tuduhan pelecehan seksual pada tahun 2021. Dia sempat kehilangan dukungan masyarakat dan menghadapi banyak tekanan di media sosial. Namun, pada tahun 2022, orang yang menuduhnya meminta maaf dan menjelaskan bahwa tuduhan tersebut tidak benar. Oleh karena itu, kasus Gofar seringkali dijadikan contoh bahwa budaya penghapusan dapat memberikan dampak signifikan sebelum kebenaran terungkap.

3. Arawinda Kirana Merupakan Artis Indonesia yang Pernah Kena Cancel Culture Karena

Arawinda Kirana pernah menjadi sasaran kritik dan budaya penghapusan setelah namanya terlibat dalam isu rumah tangga orang lain. Kontroversi ini membuat citra publiknya terganggu, padahal sebelumnya ia dikenal sebagai aktris muda berbakat melalui film Yuni. Beberapa media mencantumkan namanya dalam daftar artis Indonesia yang pernah menghadapi budaya penghapusan.

4. Baim Wong

Baim Wong beberapa kali menjadi target boikot dari warganet karena kontroversi yang dianggap tidak sensitif. Salah satu perhatian besar muncul ketika kontennya dianggap memanfaatkan situasi tertentu untuk hiburan. Media juga mencatat Baim Wong sebagai salah satu tokoh publik yang sempat banyak diboikot oleh netizen.

5. Raffi Ahmad

Raffi Ahmad juga pernah terjerat dalam boikot digital, terutama ketika sejumlah netizen mengaitkannya dengan masalah politik dan isu publik tertentu. Boikot terhadap Raffi dan beberapa artis lainnya sempat ramai dibahas setelah dinamika politik tahun 2024. Bentuk boikot biasanya berupa ajakan untuk berhenti mengikuti, tidak memberikan interaksi, atau tidak membeli produk yang berhubungan dengan tokoh tersebut.

6. Azizah Salsha

Azizah Salsha juga pernah jadi bahan perbincangan dalam konteks budaya penghapusan karena kontroversi dalam kehidupan pribadinya yang viral di media sosial. Meskipun bukan aktris film atau penyanyi, ia termasuk tokoh publik yang mendapat sorotan besar dari warganet. Namanya muncul dalam daftar tokoh hiburan Indonesia yang pernah terkena kultur pembatalan.

7. Julia Prastini

Julia Prastini atau yang kerap dipanggil Jule adalah seorang tokoh publik yang pernah menghadapi tekanan besar dari warganet akibat kontroversi di media sosial. Seperti banyak kasus penghapusan lainnya, reaksi publik sangat cepat karena isu pribadi menyebar luas dan menjadi bahan diskusi banyak orang. Namanya juga tercantum dalam daftar artis Indonesia yang pernah mengalami budaya penghapusan.

Artis Indonesia yang Pernah Kena Cancel Culture

Budaya penghapusan di Indonesia biasanya muncul karena berbagai alasan, seperti masalah hukum, dugaan perilaku tidak etis, ucapan yang kontroversial, isu rumah tangga, hingga pandangan politik. Dampaknya bisa signifikan, mulai dari hilangnya dukungan publik, boikot terhadap karya, tekanan dari sponsor, hingga kerusakan reputasi. Namun, fenomena ini juga memiliki sisi negatif. Publik perlu membedakan antara kritik yang valid, boikot yang berdasarkan fakta, dan penilaian massal sebelum semua kebenaran terungkap.

Continue Reading

Entertainment

Katy Perry Sebut 2025 Jadi Tahun Paling Berat dalam Hidupnya

Published

on

Katy Perry Sebut 2025 Jadi Tahun Paling Berat dalam Hidupnya

Katy Perry Sebut 2025 Jadi Tahun Paling Berat dalam Hidupnya

Katy Perry sebut 2025 menjadi topik hangat setelah penyanyi pop terkenal, Katy Perry, mengungkap bahwa tahun 2025 adalah salah satu periode tersulit dalam hidupnya. Pengakuan ini disampaikan dalam sebuah wawancara yang membahas karirnya, kehidupan pribadinya, serta berbagai tekanan yang dia hadapi selama tahun lalu. Meskipun dikenal sebagai salah satu penyanyi paling sukses di dunia dengan banyak lagu populer dan konser internasional, Katy Perry mengakui bahwa ketenaran tidak selalu berarti bahagia. Di balik perhatian publik dan kesuksesan karirnya, ia harus menghadapi berbagai rintangan yang menguji kekuatan mental dan emosionalnya.

Tekanan Karir dan Perhatian Publik

Sebagai tokoh publik global, Katy Perry selalu menjadi sorotan media dan penggemar. Setiap keputusan yang diambil, baik dalam karir maupun kehidupan pribadinya, sering menjadi bahan berita dan perdebatan di media sosial. Situasi ini membuat tekanan yang dialaminya semakin meningkat. Menurut Katy Perry, salah satu hal yang paling sulit adalah menciptakan keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi. Rutinitas yang padat, harapan tinggi dari industri hiburan, dan perhatian publik yang konstan menjadi tantangan yang harus dihadapinya setiap hari.

Belajar Bangkit dari Masa Sulit

Meskipun mengakui bahwa 2025 adalah tahun yang berat, Katy Perry juga menunjukkan bahwa pengalaman tersebut memberinya pelajaran penting. Ia belajar untuk lebih menghargai kesehatan mental, keluarga, dan orang-orang terdekat yang selalu ada untuk mendukungnya dalam berbagai situasi. Penyanyi yang dikenal dengan lagu-lagu seperti Firework, Roar, dan Dark Horse itu menyatakan bahwa masa-masa sulit justru membantunya mengenal diri sendiri dengan lebih baik. Ia mulai lebih selektif dalam menentukan prioritas dan berusaha untuk menjalani hidup dengan lebih seimbang.

Dukungan Keluarga Menjadi Kekuatan Utama

Dalam banyak kesempatan, Katy Perry sering berbicara mengenai pentingnya dukungan keluarga. Keberadaan orang-orang terdekat adalah salah satu faktor yang membantunya melewati masa-masa sulit selama 2025. Baginya, keluarga memberikan rasa aman di tengah tekanan industri hiburan yang sangat kompetitif. Dukungan ini membuatnya tetap bersemangat untuk terus berkarya dan menghadapi tantangan yang ada.

Katy Perry sebut 2025 Berat Tetapi Fokus pada Musik dan Masa Depan

Meski menghadapi banyak kesulitan, Katy Perry tetap berkomitmen untuk berkarya. Ia terus aktif di dunia musik dan bersiap untuk proyek-proyek baru bagi penggemarnya di seluruh dunia. Pengalaman yang didapat selama tahun yang penuh tantangan ini bahkan diyakini akan menjadi sumber inspirasi bagi karya-karya selanjutnya. Banyak musisi menjadikan pengalaman hidup pribadi sebagai kekuatan kreativitas, dan Katy Perry tampaknya melakukan hal yang sama.

Pesan untuk Para Penggemar Katy Perry yang Sebut 2025 Sebagai Tahun Sulit

Melalui pengakuannya, Katy Perry ingin menyampaikan pesan kepada para penggemarnya bahwa setiap orang bisa mengalami masa-masa sulit, termasuk mereka yang tampak sukses dari luar. Ia mendorong banyak orang untuk tidak ragu mencari bantuan, berbicara dengan orang terdekat, dan menjaga kesehatan mental. Pesan ini mendapat sambutan positif dari penggemarnya yang menghargai keterbukaan sang penyanyi untuk berbagi pengalaman pribadinya. Banyak yang merasa kisah ini dapat menjadi sumber inspirasi bagi mereka yang menghadapi tantangan serupa.

Tahun Sulit yang Membentuk Pribadi Lebih Kuat

Bagi Katy Perry, tahun 2025 bisa jadi jadi salah satu tahun yang paling sulit dalam hidupnya. Meski begitu, dari pengalaman itu, ia mendapatkan banyak pelajaran yang membantunya berkembang menjadi orang yang lebih kuat dan dewasa. Sekarang, penyanyi tersebut memilih untuk melihat ke depan dengan sikap positif. Dengan dukungan dari keluarga, penggemar, dan pengalaman yang telah dia alami, Katy Perry siap untuk melanjutkan kariernya sambil membawa pandangan baru yang muncul dari masa-masa sulit tersebut.

Continue Reading

Trending

Copyright © 2026 Lintas Kompas